Tuesday, September 2, 2014

Uraian Rukun Iman


Perkara-perkara yang wajib diyakini berkaitan dengan Iman dikenal sebagai Rukun Iman, yang meliputi:
  1. Keyakinan kepada ALLAH dan sifat-sifatNya baik sifat-sifat yang wajib, sifat-sifat yang mustahil dan juga sifat-sifat yang boleh.
  2. Keyakinan kepada para rasul dan sifat-sifatnya.
  3. Keyakinan kepada kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh Allah seperti Al Quran, Zabur, Injil dan Taurat.
  4. Keyakinan kepada para malaikat.
  5. Keyakinan kepada akhirat yang meliputi Syurga dan Neraka serta perkara-perkara lain yang merangkumi perkara di alam ghaib.
  6. Keyakinan kepada Qadha dan Qadar ALLAH.
Uraian tentang iman dalam Ahlusunnah Wal Jamaah telah disusun oleh Imam Abu Hasan Al-Asyari.

Keyakinan Dengan Allah

Uraian tentang ketuhanan ini telah disusun oleh Imam Abu Hasan Al-Asyari dan dikenal sebagai "Tauhid Sifat 20". Dari sifat-sifat Allah yang sempurna dan tak berhingga itu yang wajib diketahui secara ringkas oleh setiap orang Islam yang sudah baligh dan berakal adalah :
  • 20 sifat yang wajib (mesti ada ) pada Allah
  • 20 sifat yang mustahil (tidak mungkin ada) pada Allah
  • 1 sifat yang mubah (boleh ada-boleh tidak) pada Allah
Adapun sifat yang 20 yang mesti ada dan yang 20 mustahil pada Allah itu adalah :
  1. Wujud : Allah itu ada, mustahil Allah tidak ada.
  2. Qidam : Allah tidak berpermulaan ada-Nya. Mustahil Ia berpermulaan ada-Nya.
  3. Baqa : Allah kekal selama-lamanya, mustahil Ia akan lenyap (habis)
  4. Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi : Allah berlainan dengan sekalian makhluk, mustahil Ia serupa dengan makhluk yang Ia ciptakan.
  5. Qiyamuhu Binafsihi : Allah berdiri sendiri dan tidak memerlukan pertolongan pihak lain, mustahil memerlukan pertolongan pihak lain.
  6. Wahdaniah : Allah Allah Maha Esa, mustahil Ia banyak (berbilang).
  7. Qudrat : Allah berkuasa, mustahil Ia lemah (dhaif)
  8. Iradah : Allah menetapkan sesuatu menurut kehendak-Nya dan mustahil Ia dipaksa oleh kekuatan lain untuk melakukan sesuatu
  9. Ilmu : Allah tahu seluruhnya, tahu yang telah dijadikan-Nya dan tahu yang akan dijadikan-Nya, mustahil Ia tidak tahu.
  10. Hayat : Allah hidup, mustahil ia mati.
  11. Sama : Allah mempunyai sifat sama, yaitu mendengar, mustahil Ia tuli.
  12. Basyar : Allah melihat, mustahil Ia buta
  13. Kalam : Allah berkata, mustahil Ia bisu.
  14. Kaunuhu Qadiran : Allah tetap selalu dalam keadaan berkuasa, mustahil Ia dalam keadaan lemah.
  15. Kaunuhu Muridan : Allah tetap selalu dalam keadaan menghendaki, mustahil Ia dalam keadaan tidak menghendaki
  16. Kaunuhu 'Aliman : Allah tetap selalu dalam keadaan tahu, mustahil Ia dalam keadaan tidak mengetahui
  17. Kaunuhu Hayyan : Allah tetap sealu keadaan hidup, mustahil Ia dalam keadaan mati.
  18. Kaunuhu Sami'an : Allah tetap dalam keadaan mendengar, mustahil Ia dalam keadaan tuli.
  19. Kaunuhu Basyiran : Allah dalam keadaan melihat, mustahil Ia dalam keadaan buta.
  20. Kaunuhu Mutakalliman : Allah tetap dalam keadaan berkata, mustahil Ia bisu.
Sifat yang boleh/mubah pada Allah adalah boleh membuat dan boleh pula tidak membuat sekalian pekerjaan. Tidak wajib bagi Allah untuk menjadikan segala makhluk, dan tidak wajib pula untuk meniadakan segala makhluk.

Keyakinan Dengan Para Rasul

Nabi dan rasul jumlahnya banyak sekali sampai 124,000 orang, dan rasul-rasul itu ada 313 atau 315 orang. Nabi yang pertama sekaligus merupakan manusia yang pertama yang Allah utus ke muka bumi adalah Nabi Adam. Nabi penutup, penghulu sekalian nabi dan para rasul adalah Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sesudah Baginda, tidak ada lagi nabi dan rasul. Baginda adalah rasul bungsu untuk ummat akhir zaman. Nabi-nabi dan rasul-rasul yang wajib diketahui adalah 25 orang, yaitu seperti yang tersebut di dalam Al Quran sebagai berikut:
  1. Nabi Adam Alaihissalam
  2. Nabi Idris Alaihissalam
  3. Nabi Nuh Alaihissalam
  4. Nabi Hud Alaihissalam
  5. Nabi Shaleh Alaihissalam
  6. Nabi Ibrahim Alaihissalam
  7. Nabi Luth Alaihissalam
  8. Nabi Ismail Alaihissalam
  9. Nabi Ishaq Alaihissalam
  10. Nabi Yaqub Alaihissalam
  11. Nabi Yusuf Alaihissalam
  12. Nabi Ayub Alaihissalam
  13. Nabi Syuaib Alaihissalam
  14. Nabi Musa Alaihissalam
  15. Nabi Harun Alaihissalam
  16. Nabi Zulkifli Alaihissalam
  17. Nabi Daud Alaihissalam
  18. Nabi Sulaiman Alaihissalam
  19. Nabi Ilyas Alaihissalam
  20. Nabi Ilyasa Alaihissalam
  21. Nabi Yunus Alaihissalam
  22. Nabi Zakaria Alaihissalam
  23. Nabi Yahya Alaihissalam
  24. Nabi Isa Alaihissalam
  25. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Diantara mereka dipililih 5 rasul Ulul Azmi, karena kesabaran mereka yang luar biasa yaitu:
  1. Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
  2. Rasulullah Ibarahim Alaihissalam
  3. Rasulullah Musa Alaihissalam
  4. Rasulullah Isa Alaihissalam
  5. Rasulullah Nuh Alaihissalam
Rasul-rasul itu adalah manusia pilihan Allah. Mereka manusia seperti kita yang menerima wahyu dari Allah dan memiliki sifat-sifat kerasulan. Ini yang membedakan para rasul dengan manusia biasa. Mereka memiliki sifat-sifat yang wajib bagi mereka yang wajib kita ketahui dan kita yakini. Selain itu ada sifat-sifat yang mustahil bagi mereka dan ada satu sifat yang harus (jaiz).
Sifat-sifat yang wajib bagi para rasul adalah sebagai berikut:
  1. Siddiq (benar), mustahil pendusta.
  2. Amanah (dipercaya), mustahil khianat.
  3. Tabligh (menyampaikan), mustahil menyembunyikan
  4. Fathanah (bijak) mustahil dungu.
Adapun sifat yang jaiz bagi para rasul ialah sifat-sifat kemanusiaan yang tidak merendahkan darjat kerasulannya. Umpamanya makan minum, tidur, kawin, bergaul dalam masyarakat, menjadi imam dalam solat, menjadi jenderal dalam peperangan dan lain-lain sebagainya.

Kitab-kitab Suci

Kitab suci yang wajib diketahui dan diyakini ada 4, yaitu:
  1. Kitab Suci Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa Alaihissalam.
  2. Kitab Suci Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud Alaihissalam.
  3. Kitab Suci Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa Alaihissalam
  4. Kitab Suci Al Quran yang diturunkan kepada Baginda Rasulullah saw.
Semua kitab suci itu dari Allah dan isinya semuanya benar, tidak boleh ada sedikitpun keraguan terhadapnya. Hanya kitab Taurat dan Injil yang ada ditangan penganut-penganutnya sekarang ini yang tidak lagi menurut yang aslinya, sudah banyak diubah oleh pendeta-pendetanya dulu, sehingga tidak dapat lagi dipercaya isinya, demikian keyakinan ummat Islam.
Allah menerangkan hal ini di dalam Al-Quran dengan firmanNya yang bermaksud:
Sebahagian orang-orang Yahudi mengubah-ubah kitab sucinya dari keadaan yang asli. (Annisa : 46).

Mengenal Malaikat

Wajib bagi setiap mukallaf mengenal malaikat-malaikat Allah secara tepat, mengenal nama-namanya yang wajib diketahui, mengenal sifat-sifatnya serta mengenal tugas-tugasnya. Pengenalan kita mesti dilandasi dengan ilmu yang memadai, dihayati, hingga terasa di hati kita betapa Maha Kuasa Allah serta betapa maha sempurna dan maha hebat pemerintahan Allah terhadap manusia dan alam semesta ciptaanNya.
Malaikat adalah makhluk halus, tidak berwujud fisik seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda fisik. Dijadikan dari nur atau cahaya. Hakikat jasadnya, Allah Maha Tahu. Dengan izin Allah mereka dapat menyerupakan dirinya menjadi seperti manusia dan lain-lain.
Malaikat tidak berjenis kelamin, tidak makan dan minum seperti manusia, tidak tidur, tidak pernah istirahat dari melaksanakan tugas-tugasnya, melainkan senantiasa taat setia kepada Allah, tidak pernah berbuat dosa dan kesalahan walaupun sekecil-kecilnya.
Malaikat-malaikat yang wajib kita kenali ada 10, mereka itu adalah sebagai berikut:
  1. Malaikat Jibril , tugasnya adalah menyampaikan wahyu kepada nabi-nabi dan para rasul. Terutama kepada Baginda Rasulullah SAW. Kadang-kadang Malaikat Jibril itu datang menyerupai laki-laki yang gagah dan tampan dan ada kalanya para sahabat pun mendengar dan menyaksikan ia berdialog dengan Baginda.
  2. Malaikat Mikail , tugasnya dalam soal kesejahteraan manusia seperti mengantar hujan, mengantar angin, soal kesuburan tanah dan kesuburan-kesuburan lainnya.
  3. Malaikat Israfil , tugasnya dalam soal-soal yang berhubung kait dengan qiamat, seperti meniup sangkakala tanda qiamat, meniup sangkakala tanda manusia dibangkitkan di padang mahsyar dan lain-lain.
  4. Malaikat Izrail , tugasnya adalah mencabut nyawa dan membawa nyawa itu kemana mestinya.
  5. Malaikat Munkar dan
  6. Nakir , tugas kedua-duanya adalah menyoal manusia yang sudah mati di alam kubur. Datang dengan wajah yang seram dan menakutkan bagi orang-orang yang mati membawa dosa dan hati yang tidak selamat. Dan sebaliknya wajah yang mereka tampilkan akan sangat indah dan menyejukkan pada mereka yang matinya husnul khatimah
  7. Malaikat Rakib , tugasnya adalah menuliskan amalan baik manusia.
  8. Malaikat Atid , tugasnya adalah mencatat amalan jahat manusia. Kedua-dua malaikat rakib atid itu senantiasa mengiringi manusia dimana saja mereka berada dan kemana sana mereka pergi. Malaikat rakib atid itu merupakan sekelompok malaikat yang jumlahnya sebanding dengan jumlah manusia sepanjang zaman.
  9. Malaikat Malik , tugasnya adalah menjaga Neraka dengan penampilan yang sangat menakutkan dan mengerikan bagi para penghuni Neraka.
  10. Malaikat Ridwan , tugasnya adalah menjaga Syurga dengan penampilan yang sangat menyenangkan para penghuni Syurga.

Mengenal Akhirat

Berkaitan dengan hari Akhirat, ada beberapa perkara yang wajib kita ketahui dan yakin, sebagai berikut:
  1. Tentang Kematian : Setiap makhluk yang bernyawa pasti mati (Ali Imran : 185). Umur manusia sudah ada jangka waktunya yang telah Allah tetapkan. Apabila waktu yang sudah ditetapkan (ajal) bagi seseorang itu tiba maka pasti ia mati. Tidak ada seorangpun yang dapat melambatkan atau menyegerakan. Setiap manusia pasti mati sesuai dengan ajal yang telah Allah tetapkan.
  2. Alam Barzah : Diantara alam dunia dengan akhirat, adalah satu alam yang disebut alam barzah atau alam kubur. Ia adalah satu alam yang memisahkan antara alam dunia dengan alam akhirat. Di sini manusia yang sudah mati diberi ruh kembali, sehingga sadar dengan segala peristiwa yang berlaku di dalamnya.
  3. Yaumul Baats : Setelah hari akhirat tiba, ketika tidak ada lagi seorang manusia pun yang hidup, maka waktu itu manusia dibangkitkan kembali (Al Haj : 6-7), kemudian dikumpulkan di padang mahsyar.
  4. Yaumul Hisab : Setelah itu ditimbang amal bakti manusia yang baik dan yang buruknya. Hari itu disebut hari hisab (yaumul hisab).
  5. Titian Siratul Mustaqim : Setiap manusia akan melalui titian siratul mustaqim yang dibentangkan di atas Neraka, kecuali segolongan orang-orang betaqwa yang dimasukkan ke dalam syurga tanpa hisab.
  6. Menerima Catatan Amal Baik dan Buruk : Orang-orang soleh, setelah ditimbang amalnya, mereka menerima buku catatan amal dari sebelah kanan, diberi gelar ashabul yamin, kemudian dimasukkan ke dalam Syurga. Adapun orang-orang yang berdosa, yang timbangan amal jahatnya lebih berat daripada amal baiknya, mereka menerima kitab catatan amal dari sebelah kiri, diberi gelar ashabussyimal, kemudian dimasukkan ke dalam Neraka.
  7. Tentang Neraka : Orang-orang mukmin yang berdosa, yang menerima catatan amal dari sebelah kiri, dimasukkan ke dalam Neraka, setelah itu diangkat, kemudian dimasukkan ke Syurga. Tetapi orang-orang kafir dan munafik, yang matinya tidak membawa iman, mereka kekal di dalam Neraka selama-lamanya.
  8. Tentang Syurga: Orang-orang bertakwa, tempat peristirahatannya di sana adalah Syurga, sesuatu yang terlalu hebat tiada tandingnya. Masya Allah, patah lidah untuk mengungkapnya. Tiada bahasa yang dapat menggambarkannya.Tiada mampu mata pena untuk menuliskannya.
    Bagi orang bertaqwa, hadiahnya bidadari-bidadari yang cantik jelita. Bukan seorang tapi berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus orang. Nikmatnya tiada tolok ukurnya di dunia. Selain itu semua, orang-orang bertaqwa, dengan rahmat dan kasih sayang Allah mereka dapat melihat Allah (Al Qiyamah : 23). Inilah nikmat yang maha besar dan tiada bandingnya di akhirat sana. Bukan Allah ada di sana, tapi waktu itu kita dapat merasakan indah dan nikmatnya pertemuan agung itu. Maha Besar dan Maha Suci Allah dari menyerupai makhluk.

Qadha & Qadar

Qadha ialah ketentuan atau hukum yang telah Allah tetapkan sejak azali bagi seseorang atau sesuatu perkara, seperti sakit, sehat, miskin, kaya dan lain-lain. Segala kejadian mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya sudah Allah tetapkan sejak azali.
Adapun qadar adalah rincian dan batasan-batasan ketentuan yang telah Allah tetapkan sejak azali lagi.

Demikianlah secara ringkas mengenai akidah Ahlusunnah Wal Jamaah.

Hadis Iman Islam Ihsan

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :

Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8] [1]

Dari hadis di atas, dapat disimpulkan 3 perkara penting dalam agama Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Iman meliputi:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Malaikat
  3. Iman kepada kitab-kitab
  4. Iman kepada para Rasul
  5. Iman kepada hari akhir
  6. iman kepada takdir Allah yang baik dan buruk
Enam hal ini disebut sebagai rukun iman.

Islam meliputi:
  1. syahadat
  2. shalat
  3. zakat 
  4. puasa
  5. haji
Lima hal ini disebut sebagai rukun Islam.

Ihsan meliputi
  1. Beribadah seakan-akan melihat Allah itu ada
  2. Beribadah dengan yakin Allah melihat ibadah kita

Friday, August 15, 2014

Asal Usul Para Wali, Susuhunan, Sultan di Indonesia





ASAL-USUL PARA WALI, SUSUHUNAN, SULTAN, DSB, DI INDONESIA 
oleh PROF. H.S. THARICK CHEHAB 

-Muqaddimah 
-Nasab Para Pelopor Da'i Yang Memasukkan Islam Ke Pulau Jawa 
-Kerajaan-Kerajaan Islam Yang Didirikan Di Pulau Jawa, Keturunannya Dan Tokoh-Tokoh Islam Yang Ternama 
-Silsilah Para Pemimpin Islam (Wali-Wali), Golongan Pertama Yang Menyiarkan Agama Islam Di Indonesia 
Sejarah Singkat Tentang Peranan Alawiyin Di Indonesia 
-a. Pendahuluan 
-b. Alawiyin Di Indonesia Sebelum Dijajah Belanda 
-c. Alawiyin Di Indonesia Di Masa Jajahan Belanda 
-d. Alawiyin Di Indonesia Di Masa Pendudukan Militer Jepang 
-e. Alawiyin Di Indonesia Setelah Merdeka 
-Nasab (Silsilah) 
-Daftar Anak-Suku Alawiyin Di Indonesia 
-Daftar Perpustakaan 
Lampiran 
-Penjelasan Atas Masalah Gelar Sayid, Oleh Prof. Dr. Hamka

Mukadimah

Buku kecil ini ditulis untuk memenuhi permintaan dan menjawab pertanyaan­pertanyaan kaum cendikiawan yang menaruh perhatian atas asal-usul para Wali, Susuhunan, Sultan, dan sebagainya serta ingin mengetahui tentang sejarah Alawiyin dan peranannya di Indonesia.
Banyak buku-buku telah diterbitkan tentang para pelopor da'i yang memasukkan Islam ke Pulau Jawa, baik yang dikarang oleh ahli sejarah, orientalis maupun oleh kaum politici Barat dan pendeta Kristen.
Bahkan Penulis masih ingat diselenggarakan suatu Seminar tentang masuknya agama Islam di Medan pada tahun 1963. Kesemuanya itu tidak lain semata-mata untuk melengkapi sejarah Islam di Indonesia dengan semurni-murninya.
Semoga buku kecil ini, yang hanya merupakan sketsa kasar, mampu memperkaya khazanah pengetahuan para pembaca budiman tentang sejarah Islam di Indonesia.
Wasalam,

Penulis
JAKARTA, 12 Rabi'ul-Awal 1395 H.

Nasab Para Pelopor Da'i yang Memasukkan Islam ke Pulau Jawa

Abu Salam Jumad gelar SUSUHUNAN ATAS ANGIN, bin Makhdum Kubra bin Jumad al-Kubra bin Abdallah bin Tajaddin bin Sinanaddin bin Hasanaddin bin Hasan bin Samaun bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zain al-Kubra bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Na'im gelar SUSUHUNAN WALI ALLAH, bin Abdul Malik Asfarani bin Husain Asfarani bin Muhammad Asfarani bin Abibakr Asfarani bin Ahmad bin Ibrahim Asfarani bin Tuskara, imam Yemen, bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN TEMBAJAT bin Muhammad Mawla al-Islam bin Ishaq gelar WALI LANANG DARI BALAMBANGAN, bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN GIRI bin Ishaq, gelar WALI LANANG DARI BELAMBANGAN (hal 15:3), bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Hasanaddin gelar PANGERAN SABAKINKING bin Ibrahim gelar SUSUHUNAN GUNUNG JATI bin Ya'qub gelar Sutomo Rojo bin Abu Ahmad Ishaq dari Malaka bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

KIAHI AGENG LURUNG TENGAH bin Syihabuddin bin Nuraddin Ali bin Ahmad al-Kubra al-Madani bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN DRAJAT bin SUSUHUNAN AMPEL bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN BONANG bin SUSUHUNAN AMPEL bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN KALINYAMAT bin Haji Usman bin Ali gelar RAJA PENDETA GERSIK, bin Abu Ali Ibrahim Asmoro al-Jaddawi bin Hamid bin Jumad al-Kabir bin Mahmud al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdullah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Ibrahim gelar SUSUHUNAN PUGER bin Askhian bin Malik bin Ja'far al-Sadiq bin Hamdan al-Kubra bin Mahmud al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN PAKALA NANGKA dari Banten bin Makhdum Jati, Pangeran Banten, bin Abrar bin Ahmad Jumad al-Kubra bin Abid al-Kubra bin Wahid al-Kubra bin Muzakir Zain al-Kubra bin Ali Zain al-Kubra bin Muhammad Zain al-Kabir bin Muhammad al-Kabir bin Abdurrahman bin Abdallah al-Baghdadi bin Askar bin Hasan bin Sama-un bin Najmaddin al-Kubra bin Najmaddin al-Kabir bin Zaid Zain al-Kabir al-Madani bin Umar Zain al-Husain bin Zain al-Hakim bin Walid Zain al-Alim al-Makki bin Walid Zain al-Alim bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN KUDUS bin SUSUHUNAN NGUDUNG bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin 'Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja'far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN GESENG bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin 'Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja'far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.

SUSUHUNAN PAKUAN bin al-Ghaibi bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin 'Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja'far al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin al-Madani bin al-Husein bin al-Imam Ali k.w.
SUSUHUNAN KALIJOGO bin TUMENGGUNG WILO TIRTO, gubernur Japara, bin ARIO TEJO KUSUMO, gubernur Tuban, bin Ario Nembi bin Lembu Suro, gubernur Surabaya, bin Tejo Laku, gubernur Majapahit, bin Abdurrahman gelar ARIO TEJO, gubernur Tuban, bin Khurames bin Abdallah bin Abbas bin Abdallah bin Ahmad Jamal bin Hasanaddin bin Arifin bin Ma'ruf bin Abdallah bin Mubarak bin Kharmis bin Abdallah bin Muzakir bin Wakhis bin Abdallah Azhar bin ABBAS r.a. bin Abdulmuttalib.


Kerajaan-Kerajaan Islam yang Didirikan di Pulau Jawa, Keturunannya dan Tokoh-Tokoh Islam yang Ternama

1) Yang terpenting terdapat hingga kini adalah para sultan Cirebon, keturunan langsung dari SUSUHUNAN GUNUNG JATI. Hanya kepada para Alawi (Sayid) diperkenankan ziarah makam moyangnya. Belanda melarang gelar sultan digunakan.
2) Keluarga para sultan Banten, keturunan langsung dari seorang putra SUSUHUNAN GUNUNG JATI, dibuang oleh Belanda ke Surabaya. Suatu cabang dari keluarga para Sultan Banten adalah para Regen Cianjur, kedudukan mana ditetapkan pada tahun 1815.
3) Keturunan SUSUHUNAN KALIJOGO adalah para Pangeran Kadilangu dekat Demak, sedangkan keturunan SUSUHUNAN DRAJAT tinggal di atas tanah milik Drajat, sebesar lebih kurang 9 hektar dekat Sedayu; inilah yang merupakan sisa dari Kerajaan Drajat.
4) Sejarah keluarga BA-SYAIBAN: Pada permulaan abad ke XVIII datang dari Hadramaut ke Cirebon Sayid Abdurrahman bin Muhammad, dimana beliau menikah dengan puteri Sultan Cirebon. Kedua puteranya Sulaiman dan Abdurrahim memperoleh gelar KIAHI MAS, semula tinggal di Surabaya dan kemudian di Krapyak (Pekalongan). Suatu cabang dari keluarga ini menetap di Surabaya. Seorang putera dari Abdurrahim, bernama SA'ID, menikah dengan puteri RADEN ADIPATI DANU REJO, Pengurus Kerajaan Jogjakarta. Dari ketiga puteranya, yang tertua Hasyim bergelar RADEN WONGSO ROJO, yang kedua Abdallah bergelar hanya RADEN, sedangkan yang ketiga Alwi kemudian pada tahun 1813, menjadi REGEN MAGELANG dengan nama dan gelar RADEN TUMENGGUNG DANU NINGRAT I. Pada tahun 1820 beliau bergelar RADEN ADIPATI. Keturunan dari Hasyim dan dari Abdallah tinggal di Jogjakarta, dan beberapa dari mereka memangku jabatan-jabatan penting pada Ke-Sultanan. Pada tahun 1826, Hamdani bin Alwi yang menggantikan ayahnya sebagai Regen Magelang bergelar RADEN TUMENGGUNG ARIO DANU NINGRAT II. Pada tahun 1862 beliau diganti oleh puteranya Sa'id yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU (KUSUMO) NINGRAT III. Pada tahun 1879 beliau diganti oleh puteranya SAYID AHMAD BIN SA'ID yang bergelar RADEN TUMENGGUNG DANU KUSUMO. Sayid Sa'id bin Hamdani balik dari haji (Makkah) pada tahun 1881, seorang sayid dari keturunan para pangeran Jawa kuna.
5) Sejarah keluarga pelukis masyhur RADEN SALEH. Namanya yang betul adalah Sayid Salih bin Husain bin Yahya. Neneknya Awadh datang dari Hadramaut ke Jawa pada permulaan abad ke XIX dan menikah dengan puteri Regen Lassem, Kiahi Bostam. Puteranya, Seyid Husain bin Awadh tinggal di Pekalongan, dimana beliau menikah dengan puteri Regen Wiradesa. Beliau memperoleh dua putera dengan gelar Sayid dan dua puteri dengan gelar Syarifah. Putera yang kedua bergelar pula RADEN. Seorang puterinya dinikahkan dengan Patih Galuh.
6) Suatu cabang dari keluarga BIN-YAHYA tiba di Pulau Pinang pada permulaan abad ke XIX juga, dan namanya TAHIR. Beliau menikah dengan seorang puteri dari keluarga Sultan Jogjakarta, Sultan mana dibuang ke Pulau Pinang selama 1812-1816.
Sayid Tahir datang ke Jawa tinggal di Semarang. Puteranya yang ketiga AHMAD RADEN SUMODIRJO yang kemudian tinggal di Pekalongan dan memperisterikan seorang syarifah dari keluarga BA'ABUD. Puteranya Seyid Salih bergelar RADEN SUMO DI PUTRO. Satu-satu puterinya menikah dengan seorang Seyid dari Hadramaut.
7) Keluarga AL-BA'ABUD: Seyid Ahmad bin Muhsin Ba'abud tiba dari Hadramaut di Pekalongan pada perrmulaan abad ke XIX, dan menikah dengan seorang puteri REGEN WIRADESA. Seorang anak cucunya Sayid Muhsin bin Husain bin Ahmad Ba'abud bergelar RADEN SURO ATMOJO. Saudaranya Ahmad bergelar RADEN SURO DI PUTRO.
8) Keluarga JAMAL-AL-LAIL. Di Priaman (Sumatra Barat) ada suatu cabang dari keluarga JAMAL-AL-LAIL, dan kepada para anggautanya penduduk memberi gelar SIDI.
9) Pada Kerajaan JAMBI, banyak terdapat anggauta keturunan BARAQBAH dan AL-JUFRI, begitu pula di Aceh, pun dari keturunan JAMAL-AL-LAIL.
10) Di Kesultanan Pontianak dan di Kubu, banyak sekali terdapat keturunan AL­QADRI, AL-AYDRUS, BA-ABUD, MUTAHHAR, AL-HINDUAN, AL-HABSYI, AL­HADDAD, AL-SAQQAF dan lain-lain Alawiyin. Semua ini bersanak-saudara dengan keluarga Sultan AL-QADRI. Sayid-sayid bergelar Wan, ringkasan dari Tuan, dan untuk wanita: Wan Ipa, ringkasan dari Tuan Syarifah.
11) Keluarga para Sultan Siak dan keluarga penguasa Palalawan adalah semua Alawiyin, begitu pua di Palembang. Keluarga-keluarga para Alawi yang terkemuka di Palembang adalah SYAIKH ABU BAKR, ALHABSYI, BIN SYIHAB, AL-SAQQAF, BARAQBAH, AL-KAF, AL-MUNAWWAR dan AL-JUFRI. Antara mereka ada yang berkeluarga dengan sultan-sultan dahulu. Banyak sekali terjadi percampuran darah antara keluarga-keluarga Alawi (Sayid) dengan para terkemuka Indonesia, seperti puteri Sultan dari Pulau Bacan.
12) Para sultan keturunan Alawi dari Siak, Palalawan, Pontianak dan dari Kubu namanya disebut dalam khotbah Jumahat. Pendiri kesultanan Siak adalah SEYID ALI BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dari Palalawan adalah SEYID ABDURRAHMAN BIN UTHMAN BIN SYIHAB, dan dari PONTIANAK adalah SEYID ABDURRAHMAN BIN HUSEIN AL-QADRI.
13) Pendiri kesultanan SULU adalah SAYID ABUBAKR dari Palembang dengan gelar SULTAN SHARIF (orang-orang Sulu menyebutnya ASSULTAN ASSYARIF ALHASYIMI). Urutan para sultan adalah sebagai berikut: MAHARAJA UPU – PANGIRAN BUDIMAN – SULTAN TANGA – SULTAN BUNGSU – SULTAN NASIRUDDIN – SULTAN KARAMAT – SULTAN SYAHABUDDIN – SULTAN MUSTAFA gelar SAPIUDDIN – SULTAN MUHAMMAD NASARUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN I – SULTAN MUHAMMAD MU'IZZIDDIN – SULTAN ISRAIL – SULTAN ALIMUDDIN II – SULTAN MUHAMMAD SARAPUDDIN – SULTAN ALIMUDDIN III.
14) Masuknya Islam dan terdirinya dynasti Islam di Sulu: 1380 – 1450.
*(No. 13 dan 14 dikutip dari THE HISTORY OF SULU oleh Najeeb M. Saleeby, Manila, 1963).
* Yang terurai di atas digali dari buku LE HADHRAMOUT ET LES COLONIES ARABES DANS L'ARCHIPEL INDIEN par L.C.W. van den Berg, .Ouvrage publiƩ par ordre du Gouvernement, Batavia, Imprimerie du Gouvernement, 1886/Museum Pusat, Jakarta, XXI/1387 & XXI/6076.


Silsilah Para Pemimpin Islam (Wali-Wali), Golongan Pertama yang Menyiarkan Agama Islam di Indonesia

1) JAMALUDDIN ALHUSAIN gelar WAJUK MAKASAR, bin Imam Ahmad Syah bin Amir Abdullah Khan bin Abdul-malik bin Alwi bin Muhammad Sahib Marbat bin Ali Khaliq Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Aluraidhi bin Ja’far al-Sadiq bin Muhammad al-Bakir bin Ali Zainulabidin bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.
2) RADEN RAHMAT gelar SUNAN AMPEL-SURABAYA bin Maulana Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK-TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
3) MUHAMMAD AINUL YAQIN gelar SUNAN GIRI GRESIK bin Maulana Ishak Makhdum dari Pasei Malaka, bin Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK­TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
4) HIDAYATULLAH gelar SUNAN GUNUNGJATI-CIREBON bin Sunan Abdullah dari Kamboja (Campa) bin Ali Nurul Alam dari Siam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
5) SYEIKH IBRAHIM gelar SUNAN BONANG di Tuban, bin Raden Rahmat gelar SUNAN AMPEL-SURABAYA bin Maulana Ibrahim Asmoro gelar SUNAN NGGESIK-TUBAN bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
6) MAULANA MALIK IBRAHIM di Gapura-Gresik bin Barakat Zainul Alam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
7) BABULLOH gelar SUNAN TERNATE bin Abdullah dari Kamboja (Campa) bin Ali Nurul Alam dari Siam bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
8) ALI MURTADHO gelar RADEN SANTRI (BEDILAN GRESIK) bin Ibrahim Asmoro gelar Sunan Nggesik (Tuban) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
9) AHMAD HISAM (dekat Lamongan) bin Raden Rahmat gelar Sunan Ampel (Surabaya) bin Ibrahim Asmoro gelar Sunan Nggesik (Tuban) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
10) JA’FARUSSADIQ gelar SUNAN KUDUS bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
11) HASYIM gelar SUNAN DRAJAT LAMONGAN bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
* Siaran "Pengurus Makam Maulana Malik Ibrahim", 1956
12) ZAINAL-ABIDIN (Demak) bin Ahmad Hisam bin Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.
13) HASANUDDIN (Banten) bin Hidajatulloh gelar Sunan Gunungjati-Cirebon, bin Abdullah (Kamboja) bin Ali Nurul Alam (Siam) bin JAMALUDDIN ALHUSAIN, dst. lihat di atas.


Sejarah Singkat Tentang Peranan Alawiyin di Indonesia

KEPADAMU KU TITIPKAN AL-QUR’AN DAN KETURUNANKU……….. (Al-Hadith Rasulullah s.a.w. Dirawikan oleh Imam Ahmad Ibn Hambal).

a. PENDAHULUAN
Pada zaman kekhalifahan Bani Abbas (750-1258 M) berkembanglah ilmu pengetahuan tentang Islam yang bercabang-cabang disamping kenyataan itu penghidupan lapisan atas menyimpang dari ajaran agama Islam. Dibentuknya dynasti Bani Abbas yang turun-temurun mewariskan kekhalifahan. Istilah "muslim bila kaif" telah menjadi lazim. Hidupnya keturunan Sayidatina Fatimah Al-Zahra dicurigai, tiada bebas dan senantiasa terancam, ini oleh karena pengaruhnya anak cucu dari Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. atas rakyat sangat besar dan diseganinya. Ke-inginnan kebanyakan orang Muslim adalah seorang keturunan Nabi yang seharusnya memegang kekhalifahan. Banyak yang dipenjarakan dan dibunuhnya oleh karenanya banyak pula yang pindah dan menjauhkan diri dari pusat Bani Abbas di Baghdad.

AHMAD BIN ISA r.a.
Dalam keadaan sebagaimana di-uraikan diatas, yang pasti akan dikutuk Allah s.w.t., dan dengan hendak memelihara keturunannya dari kesesatan, mengulangilah AHMAD BIN ISA BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN AL-HUSEYN r.a. doa-nya sayidina Ibrahim a.s. yang tersurat dalam Al-Qur’an surat 14 ayat 37 dan dipilihnya Hadramaut yang tiada bertetanaman, untuk menetap dan berhijrahlah beliau dari Basrah ke Hadramaut, dimana beliau wafat di Hasisah pada tahun 345 H.

ALWI BIN UBAIDILLAH ALAWIYIN
Keturunan dari AHMAD BIN ISA tadi yang menetap di Hadramaut dinamakan ALAWIYIN; ini dari nama cucunya ALWI BIN UBAIDILLAH BIN AHMAD BIN ISA yang dimakamkan di Sumul.
Keturunan sayidina Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. disebut juga ALAWIYIN dari sayidina Ali bin Abi-Thalib k.w. Keluarga Al-Anqawi, Al-Musa-Alkazimi, Al-Qadiri dan Al-Qudsi yang terdapat sedikit di Indonesia adalah Alawiyin, tapi bukan dari Alwi bin Ubaidillah.

MUHAMMAD AL-FAQIH AL-MUQADDAM
Luput dari serbuan Hulaku, saudara maharaja Cina, yang mentamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M.), yang memang telah dikhawatirkan oleh AHMAD BIN ISA akan kutukan Allah s.w.t., maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan kenyataan bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-Thalib r.a. Ini ternyata pula hingga kini dari istilah-istilah dalam loghat orang Hadramaut. Dalam menjalankan ‘tugas suci’, ialah pusaka yang diwariskannya, banyak dari pada suku Alawiyin tiada segan mendiam di lembah yang tandus. Tugas suci ini terdiri dari mengadakan tabligh-tabligh, perpustakaan­perpustakaan, pesantren-pesantren (rubat) dan masjid-masjid. Alawiyin yang semula bermazhab "Ahlil-Bait" mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN ALWI BIN MUHAMMAD BIN ALWI BIN UBAIDILLAH melaksanakan suatu kompromis dengan memilih mazhab Muhammad bin Idris Al-Syafi’I Al-Quraisyi, ialah yang kemudian disebut dengan mazhab Syafi’i. Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam ini wafat di Tarim pad atahun 653 H.

TUGAS SUCI (ISLAMISASI)
Alawiyin dalam menyebarkan agama Islam menyebrang ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand (Siam), Indonesia, Tiongkok (Cina), Filipina, dsb.

b. ALAWIYIN DI INDONESIA SEBELUM DIJAJAH BELANDA
Sebelumnya orang Barat datang, maka berkembanglah agama Islam dengan baik sekali dan terbentuklah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Runtuhnya kerajaan Islam di semenanjung Iberia dalam abad ke XV M. dengan jatuhnya Al-Andalus (1492 M.), mengakibatkan pengejaran bangsa Spanyol terhadap Muslimin, pengejaran mana diberkati Paus Roma. Jika kehendak orang Spanyol menyeranikan, maka kehendak orang Portugis ialah berniaga dengan orang Muslim di Indonesia, dan oleh karena ini orang Portugis lebih memperoleh sukses. Sebab peperangan di Europa antara Spanyol sepihak dengan masing-masing Belanda dan Inggeris, maka kedua bangsa ini turut juga datang ke Indonesia. Kecerobohan dan keserakahan Barat senantiasa ditentang oleh kaum Muslimin di tanah air kita.

c. ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA JAJAHAN BELANDA
Dengan pelbagai tipu muslihat dan fitnah akhirnya Belanda disokong oleh negara­negara Barat lain, dapat menguasai Indonesia, dan ekonomi Belanda mulai berkembang pesat sesudahnya dapat dipergunakan kapal uap. Alawiyin dari pada awalnya jajahan Belanda mulai merasakan rupa-rupa kesulitan, oleh karena Belanda melihat bahwa Alawiyin-lah dalam segala lapangan menjadi pelopornya, baik di medan perang, maupun dalam bidang pengangkutan barang-barang lewat lautan atau bidang kebudayaan (agama). Dilarangnya Alawiyin menetap di pedalaman pulau Jawa, dilarangnya berkeluarga dengan anggauta istana (yang memang keturunan Alawiyin), hingga yang tiada mampu pindah ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau karena sebab lain, mengambil nama keluarga Jawa agar di-anggapnya orang Jawa asli, pribumi. Oleh karena pindahnya Alawiyin dari pedalaman ke bandar-bandar di pinggir laut, maka pula pusat ke-Islaman pindah ke utara seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, dst. Yang tidak dapat berpindah dari pedalaman, menetap di perkampungan-perkampingan yang disebut "kaum". Suku-suku Alawiyin yang telah anak-beranak dan tiada mampu pindah ke kota-kota besar dan mengambil nama ningrat Jawa, ialah banyak dari pada Al-Basyiban, Al-Baabud, Al-Binyahya, Al-Aydrus, Al-Fad’aq dan lain-lain lagi. Dalam kenyataan demikian itu, Belanda baru mulai berusaha menyeranikan Jawa Tengah, dimana Islam tiada dapat berkembang oleh karena peperangan-peperangan melawan Belanda dan berhasilnya aneka fitnah yang Belanda ciptakan antara penguasa-penguasa pribumi sendiri. Anak Muslim tiada boleh bersekolah, sedangkan anak Keristen dapat pendidikan dan pelajaran modern. Kemudian di-izinkan bersekolah Belanda anak-anak orang yang berpangkat pada pemerintahan jajahan, dan diharuskan mereka tinggal (yakni in de kost) pada pejabat Belanda. Katanya agar dapat lancar berbicara bahasa Belanda dan mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberi dalam bahasa itu; sebetulnya untuk menjadikan kanak-kanak itu berfikir dan hidup secara orang Belanda, dan untuk mengasingkan mereka dari bangsanya sendiri, dari adat-istiadat dan agamanya. Anak rakyat biasa, awam, mengaji, baik pada madrasah-madrasah Alawiyin atau pesantren­pesantren. Hubungan Alawiyin dengan para kiyahi erat sekali. Untuk melumpuhkan berkembangnya agama Islam di-antara anak-anak rakyat jelata, Belanda mengadakan sekolah-sekolah Hollands-Inlandse School (H.I.S.) dengan syarat bahwa murid tiada boleh bersarong dan berkopya-pici, harus mengenakan celana pendek sampai atas lutut, pakaian mana bukan kebiasaan orang yang mendirikan salat. Jangan sampai kanak-kanak dapat membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab agama Islam yang tertulis dengan huruf Arab, Belanda mengajar dengan sungguh menulis dengan huruf latin, dan mengadakan buku­buku yang menarik dalam huruf ini, untuk maksud mana dibentuknya Balai Perpustakaan. Banyak buku-buku yang dikarang oleh pendeta dan padri, indolog dan orientalis, mengandung racun bagi anak murid yang pengetahuannya tentang Islam dan tarikhnya masih sangat dangkal. Alawiyin menolak tawaran Belanda untuk membangun Hollands-Arabise School (H.A.S.), dan menolak pula subsidi dari pemerintah jajahan bagi madrasah-madrasahnya, karena curiga dan takut dari tipu muslihat dan pengaruh Belanda yang berniat merusak agama Islam. Alawiyin tiada boleh mendirikan cabang­cabang madrasah di kota-kota besar dengan nama yang sama, oleh karena itu nama-nama madrasah yang sama skala pendidikannya, berlainan namanya. Para guru dari negara Islam didatangkan untuk mengajar di madrasah-madrasah, dan kanak-kanak yang berbakat dikirim melanjutkan pelajarannya ke Hadramaut, Hejaz, Istanbul, Kairo dan lain-lain.
Disamping perguruan, Alawiyin aktif juga di lapangan politik hingga beberapa orang ditangkap dan dipenjarakan. Melawan Belanda antara mana di Aceh, dan sesudah Aceh ditaklukannya, Muslimin hendak mengadakan pembrontakan di Singapura di kalangan tentara Muslimin India yang Inggeris hendak berangkatkan untuk berperang di Iraq (Perang Dunia I). Perlu juga diketahui bahwa Alawiyin senantiasa berhubungan dengan Muslimin di luar negri, orang-orang yang terkemuka dan berpengaruh, teristimewa dengan Padisyah, Khalifatul Muslimin di Istanbul, yang atas aduan Alawiyin pernah mengirim utusan rahasia untuk menyelidiki keadaan-keadaan Muslimin di Indonesia.

d. ALAWIYIN DI INDONESIA DI MASA PENDUDUKAN MILITER JEPANG
Pendudukan militer Jepang menindas dan mematikan segala kegiatan Alawiyin, terutama dalam bidang politik, perguruan tabligh, pemeliharaan orang miskin dan anak yatim. Perpustakaan yang tidak dapat dinilai harganya di-angkut Jepang, entah kemana. Semua kitab ada capnya dari Al-Rabitah Al-Alawiyah yang berpengurus-besar hingga kini di Jalan Mas Mansyur (dahulu Jalan Karet) No. 17. Jakarta Pusat (II/24).

e. ALAWIYIN DI INDONESIA SETELAH MERDEKA
Pemudan Alawiyin turut giat melawan Inggeris dan Belanda (Nica), bergerilya di pegunungan. SEMUA PEMUDA ALAWIYIN ADALAH WARGANEGARA INDONESIA dan masuk berbagai partai Islam. Dalam lapangan ekonomi mereka sangat lemah hingga kini belum dapat merebut kembali kedudukannya seperti sebelumnya pecah perang dunia ke-dua, dengan lain kata, jika Alawiyin sebelumnya Perang Dunia ke II dapat membentuk badan-badan sosial seperti gedung-gedung madrasah, rumah yatim piatu, masjid-masjid dan membayar guru-guru yang cakap, maka sekarang ini dengan susah payah mereka membiayai pemeliharaannya dan tidak dapat lagi memberi tenaga guru-guru sepandai dan secakap yang dahulu, meskipun kesempatan kini adalah lebih baik dan pertolongan pemerintah ala qadarnya. Kegiatan bertabligh tetap berada di tangan para kiyahi dan Alawiyin yang tersebar di pelosok-pelosok kepulauan Indonesia. Alawiyin yang lebih dikenal dengan sebutan sayid, habib, ayib dan sebagainya tetap dicintai dimana-mana dan memegang peranan rohani yang tidak dapat dibuat-buat sebagaimana juga di negara Islam lain. Kebiasaan dan tradisi Alawiyin di-ikuti dalam perayaan maulid Nabi, haul, nikah, upacara-upacara kematian dan sebagainya. Suku-suku Alawiyin di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 50.000 orang; ada banyak yang besar, antara mana Al-Saggaf, Al-Attas, Al-Syihab, Al-Habasyi, Al-Aydrus, Al-Kaf, Al-Jufri, Al-Haddad. Dan semua keturunan asal-usul ini dicatat dan dipelihara pada Al-Maktab Al-Daimi yaitu kantor tetap untuk statistik dan pemeliharaan nasab sadatul­alawiyin yang berpusat di gedung "Darul Aitam", Jalan K.H. Mas Mansyur (dahulu Jalan Karet) No. 47, Jakarta Pusat (II/24).


NASAB (SILSILAH)

Semua nasab terputus, kecuali nasabku..... (Al-Hadith).
ADAM adalah ayah Syith, dan Syith ayah Anusy, dan Anusy ayah Qinan, dan Qinan ayah Mahalail, dan Mahalail ayah Yarid, dan Earid ayah IDRIS alias Akhnukh, dan Idris ayah Matusylakh, dan Matusylakh ayah Lamak, dan Lamak ayah NUH.

BANI SAM
NUH adalah ayah SAM, dan Sam ayah Arfakhsyad, dan Arfakhsyad ayak Syalakh, dan Syalakh ayah Abir, dan Abir ayah Falagh, dan Falagh ayah Arghu, dan Arghu ayah Syarukh, dan Syarukh ayah Nakhur, dan Nakhur ayah AZAR alias Terah, dan Azar ayah IBRAHIM.

BANI ISMAIL
IBRAHIM adalah ayah ISMAIL, dan Ismail ayah Qidar, dan Qidar ayah Hamal, dan Hamal ayah Banat, dan Banat ayah Salaman, dan Salaman ayah Humaysa', dan Humaysa' ayah Adad, dan Adad ayah Ad, dan Ad ayah ADNAN, ADNAN adalah ayah Maad, dan Maad ayah Nizar, dan Nizar ayah Mudhar, dan Mudhar ayah Ilyas, dan Ilyas ayah Mudrikah, dan Mudrikah ayah Khuzaimah, dan Khuzaimah ayah Kinanah, dan Kinanah ayah Al-Nadhr, Al-Nadhr ayah Malak, dan Malak ayah Fihr alas QURAISY.

QURAISYIUN
FIHR ayah Ghalib, dan Ghalib ayah Lu'ay, dan Lu'ay ayah Kaab, dan Kaab ayah Murrah, dan Murrah ayah Kilab alias Hakim, dan Kilab ayah Qusay alias Mujami', dan Qusay ayah Abdimanaf, dan Abdimanaf ayah HASYIM.


BANI HASYIM
HASYIM adalah ayah Abdulmuttalib, dan Abdulmuttalib ayah Abdullah dan Abu Talib.
Abdullah adalah ayah NABI MUHAMMAD s.a.w. (wafat di Madinah 11 H.), dan NABI MUHAMMAD s.a.w. ayah FATIMAH Al-Zahra r.a. (wafat di Madinah 11 H.). Abu Talib adalah ayah IMAM ALI k.w. (wafat di Kufah 40 H.). FATIMAH dan ALI (s.a.) adalah ibu dan ayah AL-HASAN dan AL-HUSEYN s.a. (wafat di Kerbela 61 H.).

AL-HUSEYNIYUN
AL-HUSEYN adalah ayah Ali Zeynal-Abidin (wafat di Madinah 94 H), dan Ali Zeynal-Abidin adalah ayah Muhammad Al-Baqir (wafat di Madinah 119 H), dan Muhammad Al-Baqir ayah Ja'far Al-Sadiq (wafat di Madinah 148 H), dan Ja'far Al-Sadiq ayah Ali Al-Uraidhi (wafat di Uraidh 215 H), dan Ali Al-Uraidhi ayah Muhammad Al-Naqib (wafat di Basrah), dan Muhammad Al-Naqib ayah Isa Al-Naqib (wafat di Basrah), dan Isa Al-Naqib ayah Ahmad Al-Muhajir (wafat di Hasisah 345 H), dan Ahmad Al-Muhajir ayah Abdullah alias Ubaidillah (wafat di Ardh 383 H), dan Abdullah ayah Alwi (wafat di Sumul), dan dari Alwi berasal suku-suku ALAWI


DAFTAR ANAK-SUKU ALAWIYIN DI INDONESIA


1 Al-Ahmad Hamid Munfar   39. Al-Sumeyt 
2 -Ba Abud   40. -Saqqaf 
3 -Ba Ali   41. -Sakran 
4 -Ba Aqil Al-Saqqaf   42. -Safi 
5 -Ba Bareyk   43. -Masyhur 
6 -Ba Faqih   44. -Maula Al-Dawilah 
7 -Ba Faraj   45. -Maula Khailah 
8 -Ba Harun   46. -Mudhar 
9 -Ba Hasyim   47. -Mudhir 
10 -Bahr   48. -Munawwar Al-Saqqaf 
11 -Ba Huseyn   49. -Muqaibil 
12 -Baiti 50. -Musawa 
13 -Balakhi   51. -Muthahar 
14 -Bar 52. -Wahth 
15 -Barakwan   53. -Haddar 
16 -Ba Raqbah   54. -Hadi 
17 -Ba Syiban   55. -Hinduan 
18 -Ba Surrah   56. -Sri 
19 -Ba Umar   57. -Syatri 
20 -Bilfaqih   58. -Syihab 
21 -Bin Abbad   59. -Syaikh Abubakr 
22 -Bin Ahsan   60. -Aidid 
23 -Bin Qutban   61. -Aqil Bin Salim 
24 -Bin Sahl   62. -Attas 
25 -Bin Syuaib   63. -Aydarus 
26 -Bin Thahir   64. -Fad'aq 
27 -Bin Yahya   65. -Fakhr 
28 -Barum 66. -Qadri 
29 -Bu Futim   67. -Jufri 
30 -Bu Numay   68. -Junaid 
31 -Taqawi   69. -Habasyi 
32 -Jailani   70. -Haddad 
33 -Jamal Al-Lail   71. -Kaf 
34 -Hamid   72. -Madeyhiy 
35 -Hasni   73. -Maghrabi 
36 -Khaneyman   74. -Mahdali 
37 -Khird 75. -Marzaq 
38 -Zahir -

DAFTAR PERPUSTAKAAN

BERG, L.W.C. van den – "LE HADHRAMOUT ET LES COLONIES ARABES DANS L'ARCHIPEL INDIEN" – Batavia, 1886.

AL-HADDAD, Sajed Alwi b. Taher, Mufti Kerajaan Johor Malaya – "SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI TIMUR JAUH" – Maktab Addaimi, Jakarta, 1957.

HARAHAP, A. Salim – "SEJARAH PENYIARAN ISLAM DI ASIA TENGGARA" – Cetakan ke-dua, Penerbit "Islamiyah", Medan 1951.

SALEEBY, Najeeb M. – "THE HISTORY OF SULU" – Manila, 1963

Risalah Seminar "SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA" – Diterbitkan oleh Panitia Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Medan, Maret, 1963.

Penjelasan atas MASALAH GELAR SAYID, Oleh Prof. Dr. HAMKA

H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H. A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.
Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui PANJI MASYARAKAT, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata.
Melihat adanya korelasi dengan buku kami ini, dan setelah mendapat izin dari Saudara Rusydi Hamka, Pemimpin Redaksi/Penanggung-jawab Panji Masyarakat, maka apa yang kami kutip terbatas pada masalah tersebut dijudul saja.

Penulis

YANG pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi Muhammad s.a.w. tidaklah meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thaib, dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (nasab) beliau. Beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah. Zainab memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaltsum mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti tikar). Ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.

Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fathimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu adalah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi sebagai seorang manusia mengharapkan anak-anak Fathimah inilah yang menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucu ini. Pernah beliau sedang ruku' si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau Khutbah, si cucu duduk ketingkat pertama tangga mimbar.

Al-Tarmidzi merawikan dari Usamah bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk diatas kedua paha beliau. Lalu beliau s.a.w. berkata: "Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan. Aku sayang kepada keduanya".
* Lihat majalah tengah-bulanan "PANJI MASYARAKAT" No. 169/tahun ke-XVII – 15 Februari 1975 (=4 Shafar 1395 H.), halaman 37-38.

Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan: "Anakku ini adalah SAYYID (Tuan); moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih".
Nubuwat beliau itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu'awiyah, karena tidak suka melihat darah kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai "Tahun Persatuan". Pernah pula beliau berkata: "kedua anakku adalah SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga kelak".
Barangkali ada yang bertanya: "Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain adalah cucunya, mengapa dikatakan anaknya?"

Ini adalah pemakaian bahasan pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Didalam Al-Qur'an surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa Nabi Ya'kub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ni'matnya kepada puteranya Yusuf," sebagaimana telah disempurnakan-Nya ni'mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak". – Pada hal yang bapa, atau ayah dari Yusuf adalah Ya'kub. Ishak adalah neneknya dan Ibrahim adalah nenek ayaknya. Diayat 28 Yusuf berkata: "Bapa-bapaku Ibrahim dan Ishak dan Ya'kub". Artinya nenek-nenek moyang disebut bapa dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh ummat Muhammad menghormat mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan Hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum Muslimin.
BAGI ahlis-sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain di panggilkan orang SAYYID; kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan "kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga". Disetengah negri di sebut SYARIF, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa; kalau banyak ASYRAF. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran – Penulis) kaum Syi'ah yang berlebih­lebihan. Apatah lagi di dalam Al-Qur'an, surat ke-33 "Al-Ahzab", ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya berlipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri­-isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunanya.

MENJAWAB pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah s.a.w.? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini, sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Pilipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun Kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah Bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi Raja di Aceh. Negri Pontianak pernah diperintah Bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa Sayid bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka menjadi Ulama. Mereka datang dari Hadramautdari keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang banyak kita kenal adalah keluarga Alatas, Assagaf, Alkaf, Bafagih, Balfagih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, AlHaddad, bin Smith, bin Syahab, Alqadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al Jufri, Albar, Almussawa, Ghathmir, bin Aqil, Alhadi, Basyaiban, Bazar'ah, Bamakhramah, Ba'abud, Syaikhan, Azh-Zhahir, bin Yahya, dan lain-lain. Yang menurut keterangan Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari 'Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadhramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad Bin Isa Al-Muhajir Bin Muhammad Al-Naqib bin 'Ali Al-Uraidhi Bin Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain As-Sibthi Bin Ali Bin Abi Thalib. As-Sabthi artinya cucu, karena Husain adalah anak Fathimah binti Rasulullah s.a.w.

Sesungguhnya yang terbanyak adalah keturunan Husain dari Hadhramaut itu, ada juga keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan Syarif-syarif Mekkah Abi Numay, tapi tidak sebanyak dari Hadhramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar diseluruh dunia. Di negeri-negeri besar sebagai Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilah sampai ke Sayidina Ali dan Fathimah.
DALAM pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak Al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Baalwi menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga titel Sayid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan 'Alawy atau bukan, dengan pimpinan A.R. Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan "Al-Akh", artinya Saudara.

Maka baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad Bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad Bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu Rasulullah Husain Bin Ali Bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita berlaku hormat, dan cinta, yaitu hormat dan cintanya orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalah gunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah s.a.w.: "Janganlah sampai orang lain datang kepadaku dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu". Dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah Al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu: "Hai Fathimah binti Muhammad. Beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu di hadapan Allah sedikitpun". Dan pernah beliau bersabda: "Walau anak kandungku sendiri, Fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya".

Sebab itu kita ulangilah seruan dari salah seorang ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhammad Bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generasi-generasi yang datang kemudian dari turunan 'Alawy memegang teguh Agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan tetap memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.-

Sumber: http://as-sadah.blogspot.com/2011/12/asal-usul-para-wali-susuhunan-sultan.html

Saturday, August 9, 2014

Imam Mahdi Dan Bendera Hitam Akhir Zaman

Beberapa waktu ini sangat populer dengan panji-panji hitam, terutama yang dipakai oleh ISIS:

Bendera ISIS berwarna hitam

Stempel ISIS berwarna hitam
Gambar bendera dan stempel tersebut didapatkan dari website https://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_State_of_Iraq_and_the_Levant

Bendera hitam tersebut juga dikabarkan nampak di demonstrasi Gaza di Jakarta:
Bendera ISIS di demonstrasi di Jakarta

Menurut website https://en.wikipedia.org/wiki/Black_Standard, bendera berwarna hitam ini sebelum dipakai oleh ISIS sudah dipakai kelompok lain dengan beberapa variasi:

Bendera Emirat Afghanistan 1880-1901
Bendera Jihad yang dipakai berbagai organisasi

Bendera mujahidin Chechnya
Bendera-bendera hitam tersebut kebetulan sejalan dengan makna beberapa hadis dan atsar sebagai berikut ini:

Hadis Nabi tentang panji-panji hitam:
Sabda Nabi SAW, "Al-Mahdi akan muncul setelah keluarnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur, yang mana pasukan ini tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun." (Ibnu Majah)

Sabda Nabi SAW, "Panji-panji Hitam akan keluar dari arah Khurasan, dan sementara itu kawan-kawan al-Mahdi (pula) keluar menuju ke Baitulmaqdis."

Sabda Nabi SAW, "Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salji. Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk." Maksudnya ialah al-Mahdi. (Ibnu Majah, Abu Nuaim & al-Hakim)

Sabda Nabi SAW, "Apabila kamu melihat Panji-panji Hitam telah diterima di sebelah wilayah Khurasan, maka datangilah dia sekalipun terpaksa merangkak di atas salji kerana padanya itu ada Khalifah Allah iaitu al-Mahdi." (Abu Nuaim)

Atsar Sahabat tentang panji-panji hitam:
Abdullah bin Syuraikh berkata, "Bersama-sama munculnya Al-Mahdi adalah panji-panji Rasulullah SAW, lengkap dengan cap-capnya sekali."

Kata Sayidina Ali KMW, "Apabila Panji-panji Hitam menghala ke arah As-Sufyani, dan para pengikut Syuaib bin Saleh mencari-cari Al-Mahdi, dia akan muncul dari Makkah dan bersama-sama dengannya adalah Panji-panji Rasulullah SAW. Dia akan membahagi dua pasukannya mengerjakan sembahyang, setelah orang ramai meletakkan harapan kepadanya selain berpanjangan bala yang menimpa mereka. Setelah selesai sembahyang, dia mendapatkan mereka dan berkhutbah, "Wahai manusia, ujian-ujian yang berterusan menimpa umat Muhammad SAW, terutamanya kepada Ahlulbait, (antaranya) adalah (kerana) kamu dikuasai dan dipersalahkan."

Apakah pemakai bendera hitam tersebut merupakan pihak yang disebut dalam hadis dan atsar di atas? Sampai hari ini nampaknya belum ada kelompok yang mampu menjalankan isi hadis tersebut secara menyeluruh, bukan hanya panji-panji hitamnya saja. Yang banyak ada malah mencoreng nama Islam di dunia.

Referensi 

Kumpulan Hadis Dan Atsar Akhir Zaman

 1. Gelar Putera Bani Tamim

Dari Abdullah bin al-Haris bin Jaz-uz Zabidi RA katanya, sabda Nabi SAW,
"Akan keluar orang-orang dari Timur, lalu mereka mempersiapkan untuk Imam Mahdi, yakni tapak pemerintahannya." (Ibnu Majah)
"Akan keluar dari sulbi ini (Sayidina Ali KW) seorang Putera yang akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini yang demikian itu, hendaklah kamu turut menyertai Putera dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang panji-panji al-Mahdi." (At-Tabrani)

 2. Imam Mahdi Dan Panji-Panji Hitam

Sabda Nabi SAW, "Al-Mahdi akan muncul setelah keluarnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur, yang mana pasukan ini tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun." (Ibnu Majah)
Sabda Nabi SAW, "Panji-panji Hitam akan keluar dari arah Khurasan, dan sementara itu kawan-kawan al-Mahdi (pula) keluar menuju ke Baitulmaqdis."
Sabda Nabi SAW, "Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salji. Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk." Maksudnya ialah al-Mahdi. (Ibnu Majah, Abu Nuaim & al-Hakim)
Sabda Nabi SAW, "Apabila kamu melihat Panji-panji Hitam telah diterima di sebelah wilayah Khurasan, maka datangilah dia sekalipun terpaksa merangkak di atas salji kerana padanya itu ada Khalifah Allah iaitu al-Mahdi." (Abu Nuaim)
Abdullah bin Syuraikh berkata, "Bersama-sama munculnya Al-Mahdi adalah panji-panji Rasulullah SAW, lengkap dengan cap-capnya sekali."
Kata Sayidina Ali KMW, "Apabila Panji-panji Hitam menghala ke arah As-Sufyani, dan para pengikut Syuaib bin Saleh mencari-cari Al-Mahdi, dia akan muncul dari Makkah dan bersama-sama dengannya adalah Panji-panji Rasulullah SAW. Dia akan membahagi dua pasukannya mengerjakan sembahyang, setelah orang ramai meletakkan harapan kepadanya selain berpanjangan bala yang menimpa mereka. Setelah selesai sembahyang, dia mendapatkan mereka dan berkhutbah, "Wahai manusia, ujian-ujian yang berterusan menimpa umat Muhammad SAW, terutamanya kepada Ahlulbait, (antaranya) adalah (kerana) kamu dikuasai dan dipersalahkan."

3. Gelar Ikhwan 

Kata sahabat RA,
"Al-Mahdi berserta askarnya akan muncul daripada Timur. Sekiranya gunung menjadi penghalang (perjalanan) mereka, nescaya gunung itu akan (mereka pukul sehingga) hancur rata menjadi jalan mereka."

Sabda Nabi SAW,
"Akan datang Panji-panji Hitam dari Timur, seolah-olah hati mereka adalah kepingan-kepingan besi. Sesiapa yang mendengar tentang mereka, hendaklah datang kepada mereka dan berbaiatlah kepada mereka, sekalipun terpaksa merangkak di atas salji." (Al-Hafiz Abu Nuaim)
Kata Sayidina Ali KMW,
"Maka Allah Azza wa Jalla menghimpunkan sahabat-sahabatnya (tentera al-Mahdi yang dipanggil Ikhwan) seramai tentera-tentera Badar dan seramai tentera Talut, iaitu 313 orang lelaki, seolah-olah mereka itu singa-singa jantan yang keluar dari hutan. Hati mereka itu ibarat kepingan-kepingan besi. Kalau mereka berkehendak untuk memindahkan gunung, nescaya akan mereka lakukan. Pakaian mereka sejenis dan seolah-olah mereka itu dari satu ibu dan satu ayah."
Dari Ibnu Umar RA katanya, Rasulullah SAW ditanya oleh para sahabat RA,
"Apakah ada orang yang beriman kepadamu sedangkan mereka tidak pernah melihatmu dan membenarkan ajaranmu sedangkan mereka tidak pernah melihatmu?" Baginda SAW menjawab, "Mereka itu adalah Ikhwanku dan mereka bersama-samaku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku." (diulang 3 kali).
(Muslim)

Rasulullah SAW, ada menyebutkan mengenai Ikhwan ini yang maknanya kira-kira begini:
"Apabila azan sang muazin, berserulah dia, 'Asyhaduan Lailahaillallah', (ketika itu) bergoncanglah syurga. Sangatlah rindunya para bidadari dan bertambah-tambah rindunya lagi mereka akan Rasulullah SAW. Begitu juga segala mahligai syurga dan segala bilik peraduannya (bergoncang-goncang kerana) amat rindu kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW itu pula, selain rindunya yang bersangatan kepada syurga, juga tersangat rindu kepada suatu toifah dari kalangan umatnya yang akan keluar pada akhir zaman nanti. Mereka itu berakhlak dengan akhlak nabi-nabi dan mengambil perjalanan yang ditempuh oleh para siddiqin. Mereka ini adalah ghurabak (orang-orang asing) di kalangan umum mukminin."
Sabda Nabi SAW,
"Orang ramai daripada Timur (Ikhwan itu benar-benar) akan muncul, kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada al-Mahdi."
"Akan datang Panji-panji Hitam dari Timur, seolah-olah hati mereka adalah kepingan-kepingan besi. Sesiapa yang mendengar tentang mereka, hendaklah datang kepada mereka dan berbaiatlah kepada mereka, sekalipun terpaksa merangkak di atas saljui."
Sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA juga ada menceritakan mengenai sifat istimewa Ikhwan ini, dalam hadis berikut yang maknanya kira-kira begini:
"Di antara umatku yang bersangatan cintanya kepadaku, ialah manusia yang hidup sesudahku. Salah seorang di antara mereka itu (kerana) sangat ingin melihatku, (sehingga sanggup menjual) dengan anak isteri dan seluruh harta bendanya."
Sebuah asar lain yang bersumber daripada Sayidina Ali RA menceritakan dengan lebih terperinci sifat-sifat Ikhwan ini, seperti berikut;
"Maka Allah Azza wa Jalla menghimpunkan sahabat-sahabatnya seramai tentera-tentera Badar dan seramai tentera Talut, iaitu 313 orang lelaki, seolah-olah mereka itu singa-singa jantan yang keluar dari hutan. Hati mereka itu ibarat kepingan-kepingan besi. Kalaulah mereka berkehendak untuk memindahkan gunung, nescaya akan mampu mereka lakukan. Pakaian mereka sejenis dan seolah-olah mereka itu dari satu ibu dan satu ayah."
Pernah suatu ketika, Rasulullah SAW menyebutkan kecintaannya yang amat sangat dan kerinduan yang begitu mendalam kepada para Ikhwan ini dengan sabdanya,
"Aku tersangat rindu kepada para Ikhwanku." Maka bertanyalah para sahabat, "Ya Rasulullah SAW, bukankah kami ini Ikhwanmu?" Rasulullah SAW menjawab, "Bukan, malah kamu adalah sahabatku. Sedangkan Ikhwanku adalah orang yang beriman denganku walaupun mereka tidak pernah melihatku."
Hadis ini diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA dan Anas RA dengan matan yang sedikit berlainan.
Sabda Nabi SAW,
"Al-Mahdi akan datang setelah munculnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur yang mana pasukan itu selalu tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun."
Beberapa hadis yang punya pengertian umum, namun mempunyai arti khusus di akhir zaman ini:
Sabda Nabi SAW dalam hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA,
"Islam itu permulaannya adalah asing, dan nanti akan kembali menjadi asing, seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu." Muslim
Sebuah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah RA menyebutkan kira-kira begini:
"Sentiasa ada satu golongan daripada umatku, (mereka) memperjuangkan kebenaran, selalu memperoleh kemenangan sampailah ke hari kiamat. Maka turunlah Nabi Isa bin Maryam AS (kepada mereka). Maka berkatalah pembesar mereka (Imam Mahdi) kepadanya, "Marilah ke hadapan, imamkan sembahyang kami." Jawabnya, "Tidak. Sesungguhnya sebahagian kamu menjadi umarak bagi yang lain." Inilah suatu penghormatan daripada Allah untuk umat ini." Muslim

4. Kemuliaan Ikhwan

Dari Ibnu Umar RA katanya, Rasulullah SAW ditanya oleh para sahabat RA,
"Apakah ada orang yang beriman kepadamu sedangkan mereka tidak pernah melihatmu dan membenarkan ajaranmu sedangkan mereka tidak pernah melihatmu?" Baginda SAW menjawab, "Mereka itu adalah Ikhwanku dan mereka bersama-samaku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku." (diulang 3 kali).
(Muslim)

5. Siapakah Ikhwan

Rasulullah SAW, ada menyebutkan mengenai Ikhwan ini yang maknanya kira-kira begini:
"Apabila azan sang muazin, berserulah dia, 'Asyhaduan Lailahaillallah', (ketika itu) bergoncanglah syurga. Sangatlah rindunya para bidadari dan bertambah-tambah rindunya lagi mereka akan Rasulullah SAW. Begitu juga segala mahligai syurga dan segala bilik peraduannya (bergoncang-goncang kerana) amat rindu kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW itu pula, selain rindunya yang bersangatan kepada syurga, juga tersangat rindu kepada suatu toifah dari kalangan umatnya yang akan keluar pada akhir zaman nanti. Mereka itu berakhlak dengan akhlak nabi-nabi dan mengambil perjalanan yang ditempuh oleh para siddiqin. Mereka ini adalah ghurabak (orang-orang asing) di kalangan umum mukminin."
Dari Abdullah RA, katanya:
"Datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW menanyakan, "Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seorang yang mencintai suatu kaum, sedangkan dia belum pernah bertemu dengan kaum itu?" Rasulullah SAW menjawab, "Orang itu nanti akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya itu."( Muslim)
Sabda Nabi SAW dalam hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA,
"Islam itu permulaannya adalah asing, dan nanti akan kembali menjadi asing, seperti permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu." (Muslim)
Sebuah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah RA menyebutkan kira-kira begini:
"Sentiasa ada satu golongan daripada umatku, (mereka) memperjuangkan kebenaran, selalu memperoleh kemenangan sampailah ke hari kiamat. Maka turunlah Nabi Isa bin Maryam AS (kepada mereka). Maka berkatalah pembesar mereka (Imam Mahdi) kepadanya, "Marilah ke hadapan, imamkan sembahyang kami." Jawabnya, "Tidak. Sesungguhnya sebahagian kamu menjadi umarak bagi yang lain." Inilah suatu penghormatan daripada Allah untuk umat ini." (Muslim)
Sabda Nabi SAW,
"Al-Mahdi akan datang setelah munculnya Panji-panji Hitam dari sebelah Timur yang mana pasukan itu selalu tidak pernah kalah dengan pasukan mana pun."
Sabda Nabi SAW,
"Orang ramai daripada Timur (Ikhwan itu benar-benar) akan muncul, kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada al-Mahdi."
Ikhwan ini jumlahnya sudah ditetapkan oleh baginda SAW sendiri, berdasarkan beberapa buah hadis, yang salah satunya adalah seperti berikut;
"Tiga ratus empat belas orang yang di antaranya adalah perempuan, bergabung dengan al-Mahdi yang akan bertindak ke atas setiap pemimpin yang berbuat zalim dan menegakkan keadilan seperti yang diharap-harapkan oleh semua orang. Setelah itu, tidak ada kebaikan lagi di muka bumi ini yang melebihi kebaikan pada masa al-Mahdi."

Ada satu sifat istimewa yang dimiliki oleh Ikhwan ini, iaitu tahan uji, penuh sabar zahir dan batin, ikhlas dalam berjuang, sentiasa bertakwa kepada Allah, seperti yang disebutkan di dalam hadis ini;
"Akan datang Panji-panji Hitam dari Timur, seolah-olah hati mereka adalah kepingan-kepingan besi. Sesiapa yang mendengar tentang mereka, hendaklah datang kepada mereka dan berbaiatlah kepada mereka, sekalipun terpaksa merangkak di atas salju."
Sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA juga ada menceritakan mengenai sifat istimewa Ikhwan ini, dalam hadis berikut yang maknanya kira-kira begini:
"Di antara umatku yang bersangatan cintanya kepadaku, ialah manusia yang hidup sesudahku. Salah seorang di antara mereka itu (kerana) sangat ingin melihatku, (sehingga sanggup menjual) dengan anak isteri dan seluruh harta bendanya."
Sebuah asar lain yang bersumber daripada Sayidina Ali RA menceritakan dengan lebih terperinci sifat-sifat Ikhwan ini, seperti berikut;
"Maka Allah Azza wa Jalla menghimpunkan sahabat-sahabatnya seramai tentera-tentera Badar dan seramai tentera Talut, iaitu 313 orang lelaki, seolah-olah mereka itu singa-singa jantan yang keluar dari hutan. Hati mereka itu ibarat kepingan-kepingan besi. Kalaulah mereka berkehendak untuk memindahkan gunung, nescaya akan mampu mereka lakukan. Pakaian mereka sejenis dan seolah-olah mereka itu dari satu ibu dan satu ayah."
Pernah suatu ketika, Rasulullah SAW menyebutkan kecintaannya yang amat sangat dan kerinduan yang begitu mendalam kepada para Ikhwan ini dengan sabdanya,
"Aku tersangat rindu kepada para Ikhwanku." Maka bertanyalah para sahabat, "Ya Rasulullah SAW, bukankah kami ini Ikhwanmu?" Rasulullah SAW menjawab, "Bukan, malah kamu adalah sahabatku. Sedangkan Ikhwanku adalah orang yang beriman denganku walaupun mereka tidak pernah melihatku."

Hadis ini diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA dan Anas RA dengan matan yang sedikit berlainan.
"Akan ada orang-orang yang keluar dari sebelah Timur, lalu mereka mempersiapkan segala urusan untuk al-Mahdi, yakni pemerintahannya."

6. Peringkat Ikhwan

Dari Nawas bin Sam'an RA, katanya, Suatu pagi Rasulullah SAW menyebutkan hal Dajjal.
"... (Hadisnya panjang... dipendekkan) ... Isa AS mengejar Dajjal itu sampai ditemuinya di Bab Lud lalu dibunuhnya. Kemudian, suatu kaum (maksudnya para Ikhwan) yang dipelihara Allah daripada tipuan Dajjal, datang menemui Nabi Isa bin Maryam AS. Lalu dibarutnya muka mereka dan diceritakannya kepada mereka tingkat kediaman mereka (yang tinggi) di dalam syurga. Dalam keadaan demikian, ketika itu Allah mewahyukan kepada Isa AS: ..." Muslim

7.  Imam Mahdi Dan Ikhwan


Muhammad bin Ali al-Hanafiah RH berkata,
"Kami sedang bersama-sama dengan Sayidina Ali KMW apabila seorang lelaki bertanya tentang Al-Mahdi. Imam Ali KMW berkata, "Begini." Lalu ditemukannya jari-jarinya sambil dikira sampai tujuh dan berkata, "Dia akan muncul pada akhir zaman ketika orang-orang (munafik) berkata bahawa Allah telah mati. Kemudian melaluinya (Al-Mahdi) Allah mendatangkan untuk mereka awan mendung yang menutup langit lalu Allah mempertautkan antara hati mereka sehingga mereka tidak berasa keseorangan lagi malah akan lebih gembira jika ada orang lain yang menyertainya. Bilangan mereka adalah seperti pasukan Badar. Sama ada mereka itu pada permulaannya yang mendapatinya atau yang kemudian lalu menyertainya. Bilangan mereka tetap (sama) seperti bilangan tentera Talut yang berjaya menyeberangi sungai dengannya (Talut)."

8. At Talakan

Kata Sayidina Ali KMW
"Sejahteralah kepada At-Talakan. Sungguh, pada Allah itu ada perbendaharaan-Nya, bukan emas atau perak tetapi lelaki-lelaki yang mengenali Allah dengan ilmu yang hakiki dan mereka akan membantu Al-Mahdi pada akhir zaman."

9. Tokoh  Rufaqa Dan Wali Abdal


Sayidina Ali KMW berkata
"Apabila dia yang dari ahli keluarga Muhammad SAW keluar, Allah akan mempertemukan para pengikutnya dari Timur dan Barat dengannya, seperti bertemunya awan-awan pada musim luruh. Mereka adalah ar-Rufaqak, mereka datang daripada penduduk Kufah, dan Wali Abdal yang datang daripada penduduk Syam."

10. Umat Mencari Pemimpin

Dari Abdullah RA, dia berkata
"Ketika kami sedang berada bersama-sama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan Putera dari Bani Hasyim. Apabila baginda melihat mereka, tiba-tiba air matanya berlinang dan wajahnya berubah. Abdullah berkata, aku bertanya, "Kami melihat sesuatu yang tidak kami senangi pada wajahmu?" Maka baginda menjawab, "Kami adalah Ahlulbait yang Allah telah memilih bagi kami kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Sesungguhnya ahli keluargaku, sepeninggalanku nanti, akan menerima bala bencana pengusiran dan pembuangan, sehingga datanglah suatu kaum dari arah Timur yang membawa Panji-panji Hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya, lalu mereka berjuang dan menang, lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerimanya sehingga mereka menyerahkan kepemimpinan itu kepada salah seorang lelaki dari ahli keluargaku. Dia lalu memenuhinya dengan berbuat adil, seperti sebelumnya yang dipenuhi dengan kezaliman. Barang siapa di antara kamu semua yang menjumpai hal-hal tersebut, hendaklah dia mendatangi mereka walaupun terpaksa merangkak di atas salju." (Al-Hakim & Ibnu Majah)

11.  Imam Mahdi Dan Putera Bani Tamim

Dari Ibnu Umar RA yang menyatakan,
"Akan datang seorang perkasa, yang melalui lelaki perkasa itu Allah akan memenangkan umat Muhammad SAW. Setelah itu keluarlah al-Mahdi, kemudian al-Mansur, kemudian as-Salam, kemudian Ibnul 'Asab. Wahai penduduk Yaman, bukankah kamu semua berkata sesungguhnya al-Mansur adalah dari keturunanku? Demi Allah yang diriku berada di dalam kekuasaannya, sesungguhnya ayah al-Mansur adalah (benar-benar) berketurunan Quraisy. Sekiranya Allah hendak menunjukkan namanya hingga datuknya yang terakhir, nescaya akan saya sebutkan. Kerana perkara ini bersangkut paut dengan rahsia hari kiamat, maka tidaklah saya sebutkannya."
Sabda Nabi SAW,
"Akan keluar dari sulbi ini (Sayidina Ali KW) seorang Putera yang akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini yang demikian itu, hendaklah kamu turut menyertai Putera dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang panji-panji al-Mahdi." (At-Tabrani)

Saudara Sepersusuan Rasulullah yang Menjadi Tawanan Perang Hunain

Rasulullah saw diketahui sebagai anak semata wayang yang tak memiliki saudara kandung, namun beliau memiliki banyak saudara sepersusuan. Di antaranya adalah Asy-Syaima' yang merupakan putri Halimah As-Sa'diyah, ibu susu Rasulullah. Namanya pun masih dikenang dan digunakan masyarakat Arab untuk menamai putri mereka sebagai tanda kehormatan atas jasanya merawat Rasulullah saw.

Selama lima tahun, bersama ibunya, Asy-Syaima' merawat dan mengasuh Rasulullah saw. Suatu hari ketika menimang-nimang Muhammad kecil, Asy-Syaima' berkata, “Wahai Tuhanku, jagalah Muhammad sampai kami melihatnya tumbuh dewasa. Kemudian kami ingin melihatnya sebagai seorang pemimpin yang disegani. Hancurkanlah para musuhnya dan orang yang dengki kepadanya serta berikanlah dia kemuliaan yang kekal selamanya.”

Doa tersebut didengar Abu Urwah al-Azdi yang menyatakan betapa indah untaian kata yang diucapkan Asy-Syaima'. Ia pun berdoa semoga doa Asy-Syaima' dikabulkan Allah swt.

Suatu ketika, setelah memenangkan perang Hunain, kaum Muslimin memperoleh banyak harta rampasan dan tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat Asy-Syaima' Binti Harits, saudara sepersusuannya.

Ketika itu, kuda yang ditunggangi Rasulullah berhenti mendadak dan enggan jalan lagi. Para sahabat berusaha sekuat tenaga untuk menyeret kuda tunggangan Rasul. Namun tetap tak bergeming. Tak lama kemudian Asy-Syaima mendekati sekumpulan Muslimin dan mengatakan bahwa ia adalah sahabat mereka. Lalu ia mendekati Rasulullah dan menunjukkan tanda bahwa ia adalah saudara sepersusuannya. Sambil berkata “Wahai Nabi, saya adalah saudarimu.” Rasul mengenalinya dan seketika berdiri menyambut Asy-Syaima'. Beliau menggelar surbannya, lalu dengan santun dan penuh haru mempersilakan Asy-Syaima' duduk di atasnya.

Rasulullah segera menanyakan Asy-Syaima' tentang keinginannya pulang ke kampung halaman. Jika Asy-Syaima' mau, Rasulullah menawarkan untuk mengantarkannya. Meski demikian, beliau meminta agar Asy-Syaima tinggal lebih lama dan menetap di sana.

Asy-Syaima lebih memilih dipulangkan ke kaumnya. Ia pun mengikrarkan dirinya sebagai Muslimah dan Rasul menghadiahinya seekor unta serta tiga budak laki-laki dan seorang budak perempuan.
Begitulah, sikap yang ditunjukkan Rasulullah saw, selalu menghormati dan memperlakukan saudaranya dengan baik, sekalipun bukan saudara kandung. Mereka yang berjasa dalam kehidupan Rasulullah sudah selayaknya kita kenang dan mengambil pelajaran darinya.

Kisah Ibunda Rasulullah S.A.W, Aminah Binti Wahab

Aminah binti Wahab adalah ibu yang melahirkan Muhammad, Nabi umat Islam. Aminah menikah dengan Abdullah. Tidak terdapat keterangan mengenai lahirnya beliau, dan menurut sejarah ia meninggal pada tahun 577 ketika dalam perjalanan menuju Yatsrib untuk mengajak Nabi Muhammad mengunjungi pamannya dan melihat kuburan ayahnya.

KELAHIRAN

Aminah dilahirkan di Mekkah. Ayah Aminah adalah pemimpin Bani Zuhrah, yang bernama Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Sedangkan ibu Aminah adalah Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar bin Qushay.

PEMIMPIN PARA IBU

Bunda Aminah adalah pemimpin para ibu, karena ia ibu Nabi Muhammad SAW yang dipilih Allah SWT sebagai Rasul pembawa risalah untuk umat manusia hingga akhir zaman. Baginda Muhammadlah penyeru kebenaran dan keadilan serta kebaikan berupa agama Islam.

“Dan barangsiapa memilih agama selain Islam, maka tiadalah diterima (agama itu) darinya. Dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Tak banyak sejarawan yang mengupas masa hidupnya, namun nama ini senantiasa semerbak bersama hembusan angin keindahan. Perjalanannya yang indah nan suci telah mengukir perubahan besar perputaran zaman. Siapa yang tak kenal Bani Hasyim; karena dari kabilah inilah Nabi SAW dilahirkan. Siapa pula yang tak kenal Bani Zuhrah; sebuah kabilah yang pernah menyimpan wanita suci dan mulia, karena dari rahimnya lahir sebuah cahaya agung yang membawa pembaharuan besar di dunia ini, Aminah binti Wahab Ibunda Rasululllah SAW.

Mungkin sulit untuk diketahui kapan dan bagaimana kelahiran serta kehidupan Sayyidah Aminah sampai menjelang masa perkawinannya dengan Sayyid Abdullah, karena para sejarawan tidak banyak menceritakan masalah ini. Namun yang jelas Wanita Arab waktu itu terbagi menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama, adalah wanita yang dikenal oleh kaum pria dan mereka pun mengenal kaum pria. Wanita semacam ini biasanya mempunyai keahlian dalam beberapa pekerjaan dan mereka pulalah yang memberi semangat kaum lelaki di saat terjadi peperangan. Para pemuda yang menikah dengan wanita semacam ini biasanya disebabkan melihat dan mendengar secara langsung.

Kelompok kedua, adalah para wanita yang tidak dikenal oleh kaum pria dan mereka pun tidak mengenalnya selain kaum lelaki dari keluarga dekatnya sendiri. Para Pemuda Arab yang meminang wanita semacam ini disebabkan kemuliaan dan iffahnya (kesucian). Wanita semacam ini senantiasa menerima pujian dan sanjungan di setiap masa.
 

Perumpamaan wanita semacam ini di mata manusia tak bisa disamakan, kecuali dengan mutiara yang tersimpan sehingga tidak sembarangan orang dapat mengotorinya. Tak seorang pun mampu mengusik kemuliaan dan iffahnya, dari wanita semacam inilah bunga mawar Bani Zuhrah, Aminah binti Wahab.

Seorang wanita berhati mulia, pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak, pembawa hidayah.

Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dimungkiri, bahwa Allah Azza Wa Jalla memilihnya sebagai ibu seorang Rasul mulia dan Nabi yang terakhir.

Berkatalah Baginda Nabi Muhammad SAW tentang nasabnya:

“Allah telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.”

Dengarlah sabdanya lagi:

“Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”

Bunda Aminah bukan cuma ibu seorang Rasul atau Nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah. Karena risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi umat manusia.

Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Bunda Aminah binti Wahab ini:

“Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.”

Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibunda Nabi Muhammad SAW yaitu:

“Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia (Aminah) memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi (bangsawan) yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”

Aminah binti Wahab merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy serta menjadi puteri dari pemimpin bani Zuhrah. Pergaulannya senantiasa dalam penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui jelas penampilannya atau gambaran fisikalnya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannya di kalangan Quraisy.

Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah Bani Zuhrah dan menyebar ke segala penjuru Mekkah. Bau harumnya membangkitkan harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita lain yang terpandang dan dibicarakan orang.

CAHAYA DI DAHI

Allah memilih Aminah “Si Bunga Quraisy” sebagai isteri Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib di antara gadis lain yang cantik dan suci. Ramai gadis yang meminang Abdullah sebagai suaminya seperti Ruqaiyah binti Naufal, Fathimah binti Murr, Laila Al-Adawiyah, dan masih ramai wanita lain yang telah meminang Abdullah.

Ibnu Ishaq menuturkan tentang Abdul Muthalib yang membimbing tangan Abdullah anaknya setelah menebusnya dari penyembelihan. Lalu membawanya kepada Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah --yang waktu itu sebagai pemimpin Bani Zuhrah-- untuk dinikahkan dengan Aminah.

Sayyid Abdullah adalah pemuda paling tampan di Mekkah. Paling memukau dan paling terkenal di Mekkah. Tak heran, jika ketika ia meminang Aminah, ramai wanita Mekkah yang patah hati.

Cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah kini berpindah ke Aminah, padahal cahaya itulah yang membuat wanita-wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon isteri Abdullah. Setelah berhasil menikahi Aminah, Abdullah pernah bertanya kepada Ruqaiyah mengapa tidak menawarkan diri lagi sebagai suaminya.
 

Apa jawab Ruqayah:

“Cahaya yang ada padamu dulu telah meninggalkanmu, dan kini aku tidak memerlukanmu lagi.”

Fathimah binti Murr yang ditanyai juga berkata:

“Hai Abdullah, aku bukan seorang wanita jahat, tetapi kulihat aku melihat cahaya di wajahmu, karena itu aku ingin memilikimu. Namun Allah tak mengizinkan kecuali memberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya.”

Jawaban serupa juga disampaikan oleh Laila Al-Adawiyah:

“Dulu aku melihat cahaya bersinar di antara kedua matamu karena itu aku mengharapkanmu. Namun engkau menolak. Kini engkau telah mengawini Aminah, dan cahaya itu telah lenyap darimu.”

Memang “cahaya” itu telah berpindah dari Abdullah kepada Aminah. Cahaya ini setelah berpindah-pindah dari sulbi-sulbi dan rahim-rahim lalu menetap pada Aminah yang melahirkan Nabi Muhammad SAW. Bagi Nabi Muhammad SAW merupakan hasil dari doa Nabi Ibrahim bapaknya. Kelahirannya sebagai kabar gembira dari Nabi Isa saudaranya, dan merupakan hasil mimpi dari Aminah ibunya. Aminah pernah bermimpi seakan-akan sebuah cahaya keluar darinya menyinari istana-istana Syam.

Dari suara ghaib ia mendengar:

“Engkau sedang mengandung pemimpin umat.”

Masyarakat di Mekkah selalu membicarakan, kedatangan Nabi yang ditunggu-tunggu sudah semakin dekat. Para pendeta Yahudi dan Nasrani, serta peramal-peramal Arab, selalu membicarakannya. Dan Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim (as) seperti disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 129.

“Ya Tuhan kami. Utuslah bagi mereka seorang Rasul dari kalangan mereka.”

Dan terwujudlah kabar gembira dari Nabi Isa (as), seperti tersebut dalam Surah Ash-Shaff ayat 6:

“Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad).”

Benar pulalah tentang ramalan mimpi Aminah tentang cahaya yang keluar dari dirinya serta menerangi istana-istana Syam itu.

SEBAB PERKAWINAN SAYYIDAH

Para sejarawan dan ahli hadits telah meninggalkan kisah berharga tentang sebab musabab perkawinan Sayyidah Aminah dan Sayyid Abdullah. Ini telah membuktikan bahwa keluarga Abdul Muthalib tidak akan mengawinkan anaknya kecuali berdasarkan kemuliaan.

Ibnu Saad, Thabrani, dan Abu Naim meriwayatkan bahwa Abdul Muthalib bercerita:

"Suatu saat kami sampai di negara Yaman saat perjalanan musim dingin, kami bertemu dengan seorang penganut kitab Zabur (Pendeta Yahudi) dia bertanya: "Kamu dari kabilah mana? Aku menjawab: "Dari Quraisy". Dari Quraisy mana? Kujawab: Bani Hasyim! Kemudian Pendeta itu berkata: Bolehkah aku melihat salah satu anggota tubuhmu? Boleh saja asal bukan aurat?. Kemudian Pendeta itu melihat kedua tanganku dan berkata: "Aku bersaksi bahwa di salah satu tanganmu terdapat Malaikat dan tangan yang satunya terdapat Kenabian, dan aku melihat hal ini pada Bani Zuhrah, bagaimana semua ini bisa terjadi? Aku menjawab: Tidak tahu?. Kemudian dia bertanya lagi: Apakah kamu mempunyai syaah? Apakah syaah itu? Tanyaku. “Istri!” Jawabnya. Kalau sekarang aku tidak beristri?” Ujar Abdul Muthalib. Kemudian Pendeta itu berkata: "Kalau engkau pulang kawinlah dengan salah satu wanita dari mereka?” Setelah pulang ke Mekkah Abdul Muthalib kawin dengan Hallah binti Uhaib bin Abdul Manaf. Dan mengawinkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab. Setelah itu orang-orang Quraisy berkata: "Abdullah lebih beruntung dari Ayahnya?”

Baihaqi dan Abu Nuaim meriwayatkan dari Ibn Syihab, bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib adalah lelaki yang tampan. Suatu saat dia keluar ke tempat wanita-wanita Quraisy, salah satu dari mereka berkata:

"Apakah di antara kalian ada yang mau kawin dengan pemuda ini? sehingga nanti kejatuhan cahaya, karena aku melihat cahaya di antara kedua belah matanya?

Zubair bin Bakar meriwayatkan, bahwa seorang paranormal wanita yang bernama Saudah binti Zuhrah bin Kilab berkata pada orang-orang Bani Zuhrah:

"Sesungguhnya di antara kalian terdapat seorang gadis yang akan melahirkan seorang Nabi, maka perlihatkanlah gadis-gadis kalian kepadaku". Kemudian para gadis Bani Zuhrah diperlihatkan satu per satu, hingga pada giliran Aminah. Di saat dia melihat Aminah, dia berkata: "Inilah wanita yang akan melahirkan seorang Nabi.”

Demikianlah keadaan gadis Bani Zuhrah ini, dia hanya berada di dalam rumahnya, bergaul dengan keluarga dekatnya. Karena dia hanya merasakan ketentraman dan kedamaian dengan rasa malu dan sifat iffah yang dimilikinya.

Akhirnya timbul dalam ingatan Abdul Muthalib kejadian-kejadian yang dialami saat pergi ke Yaman tentang Bani Zuhrah. Maka timbullah niat mulianya. Maka dia bersama anaknya Abdullah bergegas menuju rumah keluarga Bani Zuhrah untuk menjalin kekeluargaan. Bagi keluarga Bani Zuhrah tidak ada alasan untuk menolak keinginan Abdul Muthalib, bahkan hal ini merupakan kehormatan baginya. Bani Zuhrah pun menerima lamaran Abdul Muthalib untuk menikahkan anaknya Abdullah dengan Aminah binti Wahab dan dia sendiri pun kawin dengan saudara sepupu Aminah yaitu Hajjaj binti Uhaib.

RUMAH BARU

Maka dapat dibayangkan betapa bahagianya penduduk Quraisy menyaksikan perkawinan indah dari dua keluarga mulia itu. Terutama kedua mempelai, terpancar dari keduanya wajah yang berseri-seri. Harapan masa depan cerah menyinari perasaan keduanya. Setelah dilangsungkan pesta pernikahan, Abdullah tinggal di rumah Aminah selama tiga hari sebagaimana kebiasaan orang Arab waktu itu. Kemudian dia pulang ke rumahnya untuk menyambut kedatangan sekuntum mawar dari Bani Zuhrah yang akan dibawa oleh keluarganya untuk menempati rumah barunya.

Rumah baru itu adalah rumah kecil dan sederhana yang disiapkan oleh Abdul Muthalib untuk anak kesayangannya. Para sejarawan menyebutkan bahwa rumah itu mempunyai satu kamar dan serambi yang panjangnya sekitar 12 m serta lebar 6 m yang di dinding sebelah kanan terdapat kayu yang disediakan sebagai tempat duduk mempelai.

Aminah melangkah menatap rumahnya dengan tatapan perpisahan namun hatinya bahagia diliputi harapan kehidupan baru. Kemudian dia berangkat bersama orang-orang yang mengantarnya, dengan mengenakan gaun pengantin Aminah dan rombongan disambut oleh keluarga Abdullah. Pengantar lelaki masuk dan berkumpul di serambi sedangkan pengantar wanita memasuki ruangan pengantin. Pesta meriah dan sederhana pun dilaksanakan. Setelah walimah ala kadarnya para pengantar dan penyambut membubarkan diri, maka tinggallah dua mempelai yang dipenuhi rasa damai dan bahagia dengan dipenuhi seribu harapan di masa depan.

KEHAMILAN

Tidak lama dari masa perkawinannya yang indah, Aminah mendapatkan berita gembira kehamilan dirinya yang berbeda dengan wanita pada umumnya. Dia dapatkan berita itu melalui mimpi-mimpi yang menakjubkan, bahwa dia telah mengandung makhluk yang paling mulia. Mimpinya itu, seolah-olah ia melihat sinar yang terang-benderang mengelilingi dirinya. Ia juga seolah-olah melihat istana-istana di Bashrah dan Syam. Seolah-olah dia juga mendengar suara yang ditujukan kepadanya: “Engkau telah hamil dan akan melahirkan seorang manusia termulia di kalangan umat ini!”

Dalam satu riwayat yang diriwayatkan oleh Ibn Saad dan Baihaqi dari Ibn Ishak, dia berkata:
“Aku mendengar bahwa di saat Aminah hamil, ia berkata: Aku tidak merasa bahwa aku hamil dan aku tidak merasa berat sebagaimana dirasakan oleh wanita hamil lainnya, hanya saja aku tidak merasa haid dan ada seseorang yang datang kepadaku. Apakah engkau merasa hamil? Aku menjawab: Tidak tahu. Kemudian orang itu berkata: Sesungguhnya engkau telah mengandung seorang pemuka dan Nabi dari umat ini, dan hal itu pada hari Senin, dan tandanya Dia akan keluar bersama cahaya yang memenuhi istana Basrah di negeri Syam, apabila sudah lahir berilah nama Muhammad? Aminah berkata: “Itulah yang membuatku yakin kalau aku telah hamil. Kemudian aku tidak menghiraukannya lagi hingga di saat masa melahirkan dekat, dia datang lagi dan mengatakan kata-kata yang pernah aku utarakan? Aku memohon perlindungan untuknya kepada Dzat yang Maha Esa dari kejelekan orang yang dengki?”
“Kemudian aku menceritakan semua itu kepada para wanita keluargaku, mereka berkata: Gantunglah besi di lengan dan lehermu? Kemudian aku mengerjakan perintah mereka, tidak lama besi itu putus dan setelah itu aku tidak memakainya lagi.”

PERPISAHAN

Belum lama sepasang suami istri itu melalui hari-hari bahagianya dengan segala duka-cita, rasa cinta semakin menyatu, kini keduanya harus rela untuk berpisah. Pasalnya, Abdul Muthalib telah menyiapkan sebuah kafilah yang harus dipimpin oleh anaknya yang baru kemarin merasakan manisnya kebahagiaan bersama istri untuk berniaga ke negeri Syam.

Tak ada alasan bagi pemuda seperti Abdullah untuk menolak perintah sang ayah yang sangat menyayanginya, meski hatinya tidak rela meninggalkan Aminah yang sedang hamil muda, terlebih lagi masa-masa itu adalah masa bulan madu bagi keduanya. Kegembiraan yang baru saja meluap dengan kehamilan istrinya, kini serta merta menjadi kesedihan yang cukup dalam karena ia harus segera bergabung dengan kafilah Quraisy untuk melakukan perdagangan ke Gaza dan Syam. Entah kenapa kali ini ia merasa amat berat meninggalkan rumah. Biasanya ia berangkat berdagang dengan semangat yang tinggi. Kali ini sepertinya ia telah mempunyai firasat, pergi bukan untuk kembali. Namun pergi untuk selama-lamanya dari pangkuan istrinya yang tercinta. Namun kegalauan hatinya tidak disampaikannya kepada Aminah. Ia takut kegalaluan hatinya akan merisaukan hati Aminah, sehingga akan mengganggu janin dalam kandungannya.

Detik-detik perpisahan pun tiba. Beberapa penduduk Quraisy telah bersiap-siap untuk berangkat. Masing-masing dari mereka sibuk mengurusi barang dagangan yang akan dibawa. Bani Hasyim juga tak ketinggalan mempersiapkan segala keperluannya, namun di balik itu dua insan yang telah bersatu dalam kedamaian harus berpisah setelah mereguk madu kebahagiaan.

Semerbak wangi parfum pengantin masih tercium di rumahnya, jari-jemari tangan Aminah pun masih terlihat kemerah-merahan lantaran ukiran pacar masih ada di tangannya. Tak ada yang tahu apa yang dilakukan dan dibicarakan keduanya, dalam detik-detik itu, tapi yang jelas keduanya harus rela merasakan pedihnya perpisahan setelah keindahan menyentuh sanubari mereka.

Akhirnya Abdullah tetap pergi meski dengan hati yang tertambat di rumah. Hatinya begitu sedih, hingga tak terasa air matanya keluar membasahi pipi. Air mata perpisahan.

Sungguh ... Allah saja yang mengetahui, apakah suami istri itu akan berjumpa lagi atau tidak. Hanya saja mereka berdua merasakan bahwa saat itu hati keduanya sama-sama tidak menentu. Abdullah dengan langkah gontai tapi pasti keluar dari rumah sederhananya yang diikuti Aminah. Di depan rumahnya Abdullah meninggalkan Aminah yang melepasnya dengan penuh harap, beberapa kalimat diucapkan untuk menenangkan hati di antara keduanya. Padahal di balik itu keduanya tidak menyadari kalau itu adalah pertemuan terakhir.

Setelah Abdullah keluar dan bergabung dengan rombongannya tinggallah Aminah bersama dua orang wanita Bani Hasyim dan Bani Zuhrah yang rela menemaninya selama Abdullah belum pulang. Keduanya memandang Aminah dengan pandangan iba, lantaran harus merasakan kesendirian, padahal keduanya tidak tahu masa depan Aminah.

KISAH KEPERGIAN ABDULLAH telah ditulis oleh para sejarawan.

Ibnu Saad menceritakan:

Abdullah bersama rombongan orang-orang Quraisy berangkat ke Syam untuk berniaga. Setelah selesai berniaga mereka pulang melewati kota Madinah dan waktu itu Abdullah sakit, kemudian Abdullah meminta agar meninggalkannya bersama kerabatnya dari Bani Najjar selama satu bulan. Setelah rombongan sampai di Mekkah Abdul Muthalib menanyakan keadaan Abdullah pada mereka.

Mereka menjawab:

Kami meninggalkannya bersama kerabat-kerabat Bani Najjar di Madinah karena dia sakit.
Setelah itu Abdul Muthalib mengutus anak tertuanya Al-Harits untuk menjemputnya, setelah sampai di sana Abdullah sudah dikubur. Mengetahui semua itu Abdul Muthalib dan seluruh keluarganya mengalami kesedihan yang luar biasa. Bukan hanya kesedihan karena kehilangan Abdullah yang mereka sayangi, namun lebih dari itu Abdullah telah meninggalkan kesedihan dalam jiwa seorang wanita Bani Zuhrah yang saat itu sedang hamil tua.

Tidak dapat dibayangkan! Aminah, sebagai seorang istri yang baru merasakan kasih sayang seorang suami dan menunggu kelahiran buah hati pertamanya. Aminah sangat sedih dan merana dengan perpisahan yang tidak bisa diharapkan lagi pertemuannya. Penantian dan kerinduan yang selama ini ia pendam ternyata tidak tertumpahkan. Belum lama ia mengecap kebahagiaan bersama suami yang dicintainya, kini ia telah ditinggalkan untuk selama-lamanya. Tidak dapat diungkapkan bagaimana kesedihan Aminah, seperti sejarah pun tidak sanggup mencatat kepiluannya kecuali dengan apa yang diungkapkan Aminah berupa bait-bait kesedihan.

MIMPI DI WAKTU HAMIL

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya, Qishashul Anbiyya, bahwa ketika Aminah mengandung Rasulullah SAW, sama sekali ia tidak merasa kesulitan maupun kepayahan sebagaimana wanita umumnya yang mengandung. Ia juga menyatakan bahwa selama mengandung Rasulullah SAW, dalam mimpinya ia senantiasa didatangi para Nabi-nabi terdahulu, dari sejak bulan pertama, yaitu bulan Rajab hingga kelahirannya di bulan Rabi’ul Awwal.

Bulan ke-1 didatangi oleh Nabi Adam (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi pemimpin agama yang besar.
Bulan ke-2 didatangi Nabi Idris (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan mendapat derajat paling tinggi di sisi Allah.
Bulan ke-3 didatangi Nabi Nuh (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat.
Bulan ke-4 didatangi Nabi Ibrahim (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh pangkat dan derajat yang besar di sisi Allah.
Bulan ke-5 didatangi Nabi Ismail (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki kehebatan dan mu’jizat yang besar.
Bulan ke-6 didatangi Nabi Musa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh derajat yang besar di sisi Allah.
Bulan ke-7 didatangi Nabi Daud (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki Syafaat dan Telaga Kautsar.
Bulan ke-8 didatangi Nabi Sulaiman (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi penutup para Nabi dan Rasul.
Bulan ke-9 didatangi Nabi Isa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan membawa Al-Qur’an yang diridhai.

Semua Nabi-nabi yang hadir di mimpi Aminah itu sama-sama berpesan kepadanya bahwa jika telah lahir, namai anak itu dengan nama Muhammad yang artinya Terpuji, karena anak itu akan menjadi makhluk yang paling terpuji di dunia dan akhirat. Firasat mengenai penamaan Muhammad itu pun terbersit di hati mertuanya, Abdul Muthalib, sehingga ketika Rasulullah SAW lahir, Abdul Muthalib memberinya nama Muhammad. Ketika masyarakat Mekkah bertanya mengapa ia dinamai Muhammad, bukan nama para leluhur-leluhurnya, maka Abdul Muthalib menjawab: “Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.”

MALAM YANG SANGAT DINANTIKAN ALAM

Hingga pada detik detik kelahiran Sucinya, Sayyidah Aminah tidak pernah merasa letih atau pun kepayahan. Malam yang menggembirakan bagi semesta telah tiba, inilah malam lahirnya sang Nabi Suci Paripurna yang kedatangannya dinantikan seluruh mahluk.

Dalam kesendirian mendekati saat kelahiran, Allah SWT mengutus 4 orang wanita Agung yang membantu persalinan Nabi Suci SAW. Mereka Adalah Siti Hawa, Sarah istri Nabi Ibrahim, Asiyah binti Muzahim, dan Ibunda Nabi Isa (as), Maryam. Kelak ke-4 wanita agung ini yang akan pula menemani Sayyidah Khadijah Al-Kubr At-Thahirah dalam prosesi kelahiran Az-Zahra A-Mardhiyah Ummu Aimmah (as).

Siti Hawa berkata kepada Sayyidah Aminah:

“... Sungguh beruntung engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Al-Musthafa SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini Hawa, ibunda seluruh umat manusia, Aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu..”

Selang tak lama kemudian hadirlah Siti Sarah istri Nabi Ibrahim (as). Beliau berkata:

“... Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW, seorang Nabi Agung yang dianugerahi kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber ilmunya para Nabi dan para kekasih-Nya. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Sarah istri Nabiyullah Ibrahim (as), aku diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.”

Wanita ketiga pun hadir dalam harum semerbak seraya berkata:

“... Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW, kekasih Allah yang paling agung dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah SWT dan dari seluruh mahluk-Nya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah SWTuntuk menemanimu..”

Dan Wanita keempat pun hadir dengan tampilan kecantikan luar biasa serta berwibawa. Dia adalah Siti Maryam, ibunda Nabi Isa (as), ia berkata kepada Sayyidah Aminah:

“... Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW yang dianugerahi Allah SWT mu’jizat yang sangat agung dan sangat luar biasa. Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk beliau semata segala bentuk shalawat Allah SWT dan salam sejahtera-Nya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam ibunda Isa (as). Kami semua ditugaskan Allah SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Nabi Suci Al-Musthafa SAW.”

Allah SWT berfirman kepada Malaikat Jibril Al-Amin:

”Wahai Jibril… Serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, Rasul dan para Wali agar berbaris rapi menyambut kehadiran kekasih-Ku Al-Musthafa SAW. Wahai Jibril, Bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat Al-Qurab dan Al-Wishal kepada kekasih-Ku yang memiliki maqam luhur di sisi-Ku. Wahai Jibril, perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Wahai Jibril, perintahkanlah kepada Ridwan agar membuka seluruh pintu surga.. Wahai Jibril pakailah olehmu Haullah Ar-Ridwan (Pakaian agung yang meliputi keagungan Allah SWT) demi menyambut kekasih-Ku Muhammad SAW. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat Muqarrabin, Karubbiyyin, Para Malaikat yang selalu mengelilingi Arsy-Ku demi menyambut kedatangan kekasih-Ku SAW. Wahai Jibril, kumandangkanlah seruan ke penjuru langit hingga lapis ketujuh dan ke segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakanlah kepada seluruh makhluk-Ku bahwa sesungguhnya sekarang adalah saatnya kedatangan Nabi Akhir Zaman, Muhammad Al-Musthafa SAW.”

Perintah Allah SWT ini segera di laksanakan Malaikat Mulia Al-Amin hingga di semesta terliputi pedaran cahaya Agung kemilauan dari sayap-sayap mereka. Persaksian tidak kalah hebat dialami Ummu Agung Sayyidah Aminah binti Wahab yang dengan izin Allah SWT beliau diperkenankan melihat seluruh penjuru bumi, dari mulai Syria hingga Palestina.

Seorang Ulama dalam kitab Maulid Ad-Diba’i, Syeikh Abdurahman Ad-Diba’i hal. 192-193 meredaksikan:

“Sesungguhnya saat malam kelahiran Nabi Suci Muhammad SAW, Arsy seketika bergetar hebat nan luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, Kursi Allah bertambah kewibawaan dan keagungannya dan seluruh langit dipenuhi cahaya bersinar terang dan para malaikat seluruhnya bergemuruh mengucapkan pujian kepada Allah SWT.”

PARA MALAIKAT BERTAHLIL

Hari-hari Aminah lalui dengan kesedihan dan kesendirian. Hanyalah Munajat kepada sang Pencipta yang dia ucapkan dari bibir dan hatinya. Begitulah Aminah mengisi hari-hari menunggu kelahiran anaknya, tanpa kasih sayang seorang ayah. Entah berapa tetes Air mata yang mengalir di wajah suci Aminah ketika dia mengingat calon bayinya tersebut.

Takdir Allah memang tidak bisa ditolak, ketentuannya tak bisa digugat, Maha Besar Allah dengan kehendak dan kekuasaannya yang menghendaki Manusia mulia dan suci keluar dari rahim Aminah. Detik-detik kelahiran anak Aminah ini sangat istimewa. Betapa tidak!! Di malam itu Aminah didatangi wanita-wanita suci penghuni surga seperti Maryam dan Asyiah, dengan didampingi ribuan bidadari yang mengabarkan kepadanya, bahwa sebentar lagi akan keluar dari rahim sucinya seorang bayi mungil yang lucu nan suci, pemuka dari para Nabi dan kekasih Tuhan alam semesta.

Para Malaikat bertahlil dan bertasbih menyaksikan cahaya indah yang akan lahir di malam itu, maka lahirlah Rasulullah SAW dari rahim Aminah. Tak perlu diungkapkan bagaimana proses keagungan kelahiran Rasulullah secara mendetail.

Sebab para sejarawan telah menulis dengan panjang lebar kejadian ini. Yang jelas Aminah sangat merasa bahagia dengan kelahiran anaknya ini, kepiluan, kesedihan, kesendirian dan kesepian kini telah sirna, yang ada hanyalah kebahagian dan kedamaian yang mengisi hari-hari Aminah setelah kelahiran anaknya.

Kelahiran Rasulullah SAW bak setetes embun pagi yang menetes di sanubari Aminah. Bahkan bukan bagi Aminah saja namun bagi penghuni alam semesta. Betapa banyak makhluk Allah yang berharap merawat dan menatap wajahnya, para Malaikat dan bahkan hewan-hewanpun berebut untuk merawatnya. Namun takdir Allah menentukan hanyalah Aminah yang mendapat kemuliaan tersebut.

MUNCUL KEANEHAN SAAT SAYYIDAH AMINAH MELAHIRKAN

Berbagai keanehan terjadi mengiringi kelahiran Rasulullah SAW. Di antara keanehan yang bersifat ghaib adalah: Tertutupnya pintu langit untuk para jin dan iblis. Sebelum Aminah melahirkan, jin dan iblis bebas naik turun ke langit, untuk mencuri pembicaraan malaikat. Namun sejak lahirnya manusia paling sempurna di dunia ini, pintu langit tertutup untuk syaitan yang terkutuk.

Ada juga sebagian riwayat yang mengemukakan bahwa Aminah melahirkan bayinya sudah dalam keadaan dikhitan. Sedangkan Aminah sama sekali tidak mendapatkan nifas, setelah melahirkan. Keanehan lain juga sempat disaksikan oleh Aminah sendiri.

Kata Aminah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad:

“Setelah bayiku keluar, aku melihat cahaya yang keluar dari kemaluannya, menyinari istana-istana di Syam!” Ahmad juga meriwayatkan dari Al-Irbadh bin Sariyah yang isinya serupa dengan perkataan tersebut.

Beberapa bukti kerasulan, bertepatan dengan kelahiran beliau, yaitu runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra dan padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang Majusi serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar istana Buhairah. Setelah itu, gereja-gereja tersebut amblas ke tanah. Demikian diriwayatkan dari Al-Baihaqi.

Setelah melahirkannya, dia menyuruh orang untuk memberitahukan kepada mertuanya tentang kelahiran cucunya. Maka Abdul Muthalib dengan perasaan sukacita kemudian menggendong cucunya yang baru lahir dan membawanya ke Ka’bah seraya bersyukur dan berdoa kepada-Nya. Ia memilihkan nama Muhammad bagi cucunya. Nama yang sama sekali belum dikenal di kalangan Arab.

WAFATNYA

Menurut adat Arab, setiap tahun Aminah pergi menziarahi ke pusara suaminya dekat kota Madinah itu. Setelah Rasulullah SAW dikembalikan oleh Halimah, tidak berapa lama kemudian, pergilah Aminah berziarah ke pusara suaminya itu bersama dengan anaknya (Muhammad SAW) yang masih dalam pangkuan, juga dengan budak pusaka ayahnya, seorang perempuan bernama Ummu Aiman.

Tetapi di dalam perjalanan pulang, Aminah ditimpa demam, lalu dia menemui ajalnya. Dia meninggal dan jenazahnya dikuburkan di Al-Abwa', suatu dusun di antara kota Madinah dengan Mekkah. Muhammad kecil lalu dibawa dalam gendongan Ummu Aiman balik ke Mekkah.

Kemudian Muhammad kecil diserahkan kepada kakeknya, Abdul Muthalib, yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Berkata Ibnu Ishak:

"Maka adalah Rasulullah SAW itu hidup di dalam asuhan kakeknya Abdul Muthalib bin Hasyim. Kakeknya itu mempunyai suatu hamparan tempat duduk di bawah lindungan Ka'bah. Anak-anaknya semuanya duduk di sekeliling hamparan itu. Kalau dia belum datang, tidak ada seorang pun anak- anaknya yang berani duduk dekat, lantaran amat hormat kepada orang tua itu. Maka datanglah Rasulullah SAW, ketika itu dia masih kanak-kanak, dia duduk saja di atas hamparan itu. Maka datang pulalah anak-anak kakeknya itu hendak mengambil tangannya menyuruhnya mundur. Demi terlihat oleh Abdul Muthalib, dia pun berkata: "Biarkan saja cucuku ini berbuat sekehendaknya. Demi Allah sesungguhnya dia kelak akan mempunyai kedudukan penting.' Lalu anak itu didudukkannya di dekatnya, dibarut-barutnya punggungnya dengan tangannya, disenangkannya hati anak itu dan dibiarkannya apa yang diperbuatnya."

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata:

“Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”

Diriwayatkan oleh Aisyah (ra) dengan katanya:

“Rasulullah SAW memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda mendekat kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis karena tangisnya.”

Betapa harumnya nama Sayyidah Aminah, dan betapa kekal namanya nan abadi. Seorang ibu yang luhur dan agung, sebagai ibu Baginda Muhammad SAW manusia paling utama di dunia, paling sempurna di antara para Nabi, dan sebagai Rasul yang mulia. Bunda Aminah binti Wahab adalah ibu kandung Rasul yang mulia. Semoga Allah memberkahinya.


Sumber: http://adnan-kisahkasihibu.blogspot.com/2012/12/kisah-ibunda-rasulullah-saw-aminah.html