Wednesday, June 10, 2015

Kunci Ketenangan

Surat Ra'd ayat 8:
8. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Kunci ketenangan adalah ingat kepada Allah. Jika semata-mata ingat hal-hal dunia sulit menjadi tenang, yang ada malah gelisah dan cemas.

Ref:
  • http://www.kawansejati.org/alquran-digital/s013a028.htm

Tuesday, June 9, 2015

Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala

Keputusan Dirjen Bimas Islam Nomor: Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala.

Berikut diantara aturan Bimas Islam mengenai syarat-syarat penggunaan pengeras suara:

  1. Perawatan penggunaan pengeras suara yang oleh orang-orang yang terampil dan bukan yang mencoba-coba atau masih belajar. Dengan demikian tidak ada suara bising, berdengung yang dapat menimbulkan antipati atau anggapan tidak teraturnya suatu masjid, langgar, atau musala.
  2. Mereka yang menggunakan pengeras suara (muazin, imam salat, pembaca Alquran, dan lain-lain) hendaknya memiliki suara yang fasih, merdu, enak tidak cempreng, sumbang, atau terlalu kecil. Hal ini untuk menghindarkan anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid dan bahkan jauh daripada menimbulkan rasa cinta dan simpati yang mendengar selain menjengkelkan.
  3.  Dipenuhinya syarat-syarat yang ditentukan, seperti tidak bolehnya terlalu meninggikan suara doa, dzikir, dan salat. Karena pelanggaran itu bukan menimbulkan simpati melainkan keheranan umat beragama sendiri tidak menaati ajaran agamanya.
  4. Dipenuhinya syarat-syarat di mana orang yang mendengarkan dalam keadaan siap untuk mendengarnya, bukan dalam keadaan tidur, istirahat, sedang beribadah atau dalam sedang upacara. Dalam keadaan demikian (kecuali azan) tidak akan menimbulkan kecintaan orang bahkan sebaliknya. Berbeda dengan di kampung-kampung yang kesibukan masyarakatnya masih terbatas, maka suara keagamaan dari dalam masjid, langgar, atau musala selain berarti seruan takwa juga dapat dianggap hiburan mengisi kesepian sekitarnya.
  5. Dari tuntunan nabi, suara azan sebagai tanda masuknya salat memang harus ditinggikan. Dan karena itu penggunaan pengeras suara untuknya adalah tidak diperdebatkan. Yang perlu diperhatikan adalah agar suara muazin tidak sumbang dan sebaliknya enak, merdu, dan syahdu.


Di dalam instruksi itu juga diatur bagaimana tata cara memasang pengeras suara baik suara ke dalam ataupun keluar. Juga penggunaan pengeras suara di waktu-waktu salat. Secara terperinci penggunaan pengeras suara di masjid sebagai berikut:
1. Waktu Subuh

  • Sebelum waktu subuh dapat dilakukan kegiatan-kegiatan dengan menggunakan pengeras suara paling awal 15 menit sebelum waktunya. Kesempatan ini digunakan untuk pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dimaksudkan untuk membangunkan kaum muslimin yang masih tidur, guna persiapan shalat, membersihkan diri, dan lain-lain.
  • Kegiatan pembacaan ayat suci Al-Qur’an tersebut dapat menggunakan pengeras suara ke luar. Sedangkan ke dalam tidak disalurkan agar tidak mengganggu orang yang sedang beribadah dalam masjid.
  • Adzan waktu subuh menggunakan pengeras suara ke luar.
  • Shalat subuh, kuliah subuh, dan semacamnya menggunakan pengeras suara (bila diperlukan untuk kepentingan jama’ah) dan hanya ditujukan ke dalam saja.
2. Waktu Dzuhur dan Jum’at
  • Lima menit menjelang dzuhur dan 15 menit menjelang waktu dzuhur dan Jum’at supaya diisi dengan bacaan Al-Qur’an yang ditujukan ke luar.
  • Demikian juga suara adzan bilamana telah tiba waktunya.
  • Bacaan shalat, do’a, pengumuman, khutbah, dan lain-lain menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke dalam.
3. Ashar, Maghrib, dan Isya’
  • Lima menit sebelum adzan pada waktunya, dianjurkan membaca Al-Qur’an.
  • Pada waktu datang waktu shalat dilakukan adzan dengan pengeras suara ke luar dan ke dalam.
  • Sesudah adzan, sebagaimana lain-lain waktu “hanya ke dalam”.
4. Takbir, Tarhim, dan Ramadhan
  • Takbir Idul Fitri, Idul Adha dilakukan dengan pengeras suara ke luar. Pada Idul Fitri dilakukan malam 1 Syawal dan hari 1 Syawal. Pada idul Adha dilakukan 4 hari berturut-turut sejak malam 10 Dzulhijjah.
  • Tarhim yang berupa do’a menggunakan pengeras suara ke dalam. Dan tarhim dzikir tidak menggunakan pengeras suara.
  • Pada bulan Ramadhan sebagaimana pada siang hari dan malam biasa dengan memperbanyak pengajian, bacaan Al-Qur’an yang ditujukan ke dalam seperti tadarusan dan lain-lain.
Ditetapkan di : J A K A R T A
Pada tanggal : 17 J u I i 1978
DIREKTUR JENDERAL BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM
ttd.
(DRS. H.M. KAFRAWI, M.A.)

Friday, March 13, 2015

Kewajiban Pribadi Utama Seorang Muslim

Kewajiban pribadi (fardhu ain) seorang muslim cukup banyak. Dari sisi obyek kewajiban dapat dibagi menjadi beberapa:
  • Kewajiban kepada Allah & Rasul
  • Kewajiban kepada sesama makhluk
Kewajiban kepada Allah dan Rasul selalu ada bagi setiap individu muslim. Misal shalat wajib 5 waktu selalu wajib dalam kondisi apapun. Kedangkan kewajiban kepada sesama makhluk umumnya bisa ada ataupun tidak ada tergantung keadaan. Misalkan kewajiban-kewajiban suami kepada istri hanya berlaku bagi seorang laki-laki yang sudah menikah.

Dari sisi cabang ilmu Islam, kewajiban pribadi ini dapat dibagi menjadi 3 bagian:
  1. Kewajiban pribadi di bidang akidah / keyakinan
  2. Kewajiban pribadi di bidang amalan lahiriah / syariat
  3. Kewajiban pribadi di bidang amalan batin / akhlak 
Daftar kewajiban pribadi utama setiap muslim dapat dilihat pada hadis tentang Iman, Islam dan Ihsan yang terkenal:
Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8]

Berdasarkan hadis tersebut, berikut ini daftar ringkas kewajiban-kewajiban pribadi yang selalu berlaku bagi setiap muslim.

Kewajiban Pribadi Aqidah

Kewajiban di bidang aqidah adalah mengetahui ilmu-ilmu akidah yang pokok dan meyakininya dengan sepenuh hati.

Akidah yang pokok terdiri dari rukun iman:
  1. Keyakinan kepada ALLAH dan sifat-sifatNya baik sifat-sifat yang wajib, sifat-sifat yang mustahil dan juga sifat-sifat yang boleh.
  2. Keyakinan kepada para Rasul dan sifat-sifatnya.
  3. Keyakinan kepada kitab-kitab yang pernah diturunkan oleh Allah seperti Al Quran, Zabur, Injil dan Taurat.
  4. Keyakinan kepada para malaikat.
  5. Keyakinan kepada akhirat yang meliputi Syurga dan Neraka serta perkara-perkara lain yang merangkumi perkara di alam ghaib.
  6. Keyakinan kepada Qadha dan Qadar ALLAH.
Keenam perkara ini mesti diketahui ilmu-ilmunya dan diamalkan.

Detail lebih jauh ilmu tentang rukun iman dapat dibaca di http://cahaya-akhir-zaman.blogspot.com/2014/09/uraian-rukun-iman.html

Kewajiban Pribadi Syariat

Kewajiban di bidang syariat adalah mengetahui ilmu-ilmu syariat yang pokok dan melaksanakannya dengan sempurna.

Kewajiban pribadi yang pokok terdapat dalam rukun Islam, yaitu:
  1. Syahadat
  2. Shalat
  3. Shaum/ Puasa Ramadhan
  4. Zakat
  5. Haji
Lima kewajiban tersebut senantiasa wajib bagi setiap muslim dalam keadaan apapun. Selain kewajiban di atas ada juga kewajiban-kewajiban lain yang timbul karena aktivitas sehari-hari manusia, di antaranya adalah:
  • Menutup aurat, hal ini tidak wajib setiap saat dilaksanakan, namun menjadi wajib ketika melakukan  ibadah seperti shalat, dan juga wajib ketika seseorang bergaul dengan orang lain.
  • Makan makanan yang halal. Makan hukum dasarnya bukan suatu kewajiban, namun ketika kita makan, kita haruslah makan makanan yang halal.
  • Mencari nafkah yang halal
  • Kewajiban-kewajiban dalam keluarga. Berkeluarga / menikah hukum asalnya bukan wajib, namun ketika kita bergaul dengan sanak keluarga (suami/istri / orang tua / anak, dsb), kita mesti mengamalkan hukum-hukum syariat dalam berkeluarga. Misal kewajiban suami terhadap istri, dan kewajiban istri terhadap suami.
Kewajiban Pribadi Akhlak
  • Beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat Allah & Allah melihat kita

Buku 40 Masalah Agama

Buku 40 Masalah Agama karangan K.H. Siradjuddin Abbas









Daftar isi buku "40 Masalah Agama Jilid 1"
  1. Masalah Dzikir dan Do'a.   
  2. Masalah Isra' dan Mi'raj.   
  3. Masalah Bismillah dalam Fatihah.   
  4. Masalah Tawassul dalam Mendo'a.   
  5. Masalah Qunut Sembahyang Subuh.   
  6. Masalah Hadiah Pahala.   
  7. Masalah Hisab dan Ru'yah.   
  8. Masalah Thalak tiga sekaligus.   
  9. Masalah Tarwih.   
  10. Masalah Wafatnya Nabi 'Isa AS   
Daftar isi buku "40 Masalah Agama Jilid 2"

  1. Masalah Nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w.   
  2. Masalah Menyentuh Kitab suci A1 Quran.   
  3. Masalah Najis Anjing.   
  4. Masalah Membaca Fatihah di belakang Imam.   
  5. Masalah Riba.   
  6. Masalah Qadha Sembahyang.   
  7. Masalah Bersentuh dengan Wanita.   
  8. Masalah Maulud Nabi.   
  9. Masalah Adzan dengan Piring Hitam.   
  10. Masalah Modemisasi Agama.        
Daftar isi buku "40 Masalah Agama Jilid 3":
  1. Masalah Tasawuf dan ahli Sufi
  2. Masalah Penerima Zakat yang delapan
  3. Masalah Sunnat Qabliyyah Jum'at
  4. Masalah Bid'ah
  5. Masalah Berkat
  6. Masalah Shalat 'Id di lapangan 
  7. Masalah Menulis Qur'an suci dengan huruf latin 
  8. Masalah Kebudayaan dan Kesenian
  9. Masalah Memfilmkan Nabi-Nabi
  10. Masalah Membaca Sayyidina.
Daftar isi buku "40 Masalah Agama Jilid 4":
  1. Masalah Shalat dengan bahasa Melayu.
  2. Masalah Judi dan Lotre
  3. Masalah Talqin
  4. Masalah Jum'at Hari Raya
  5. Masalah Salaf dan Khalaf
  6. Masalah Adzan pertama
  7. Masalah Niat dan Usholli
  8. Masalah Ta'addud dan Ibadah
  9. Masalah Qadha dan Qadar
  10. Masalah Melihat Tuhan Azza wa Jalla
Buku-buku tersebut antara lain dapat diperoleh di toko buku online:

Friday, February 27, 2015

Siapakah 73 Golongan Akidah Dalam Islam


Rasulullah pernah bersabda bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan akidah dan hanya 1 saja yang benar. Nah siapakah golongan-golongan itu? Rasulullah memberikan beberapa petunjuk namun tidak menyebutkan dengan sangat detail, sehingga penafsirannya masih terbuka.

Berikut salah satu kutipan hadis tentang 73 firqah/golongan:
Dari Abi Hurairah Rda, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: "Telah berfirqah-firqah (golongan) orang Yahudi atas 71 firqah dan orang Nashara seperti itu pula dan akan berfirqah ummatku atas 73 firqah" (Hadits riwayat Imam Tirmidzi)
Salah seorang ulama yang mencoba membuat daftar 73 golongan tersebut adalah Mufti Syaikh Sayid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar dalam kitabnya Bugyatul Mustarsyidin, pada halaman 398, cetakan Mathba’ah Amin Abdul Majid Cairo. Beliau menyebutkan bahwa 72 golongan (firqah) yang sesat itu pada intinya adalah 7 golongan saja, yaitu:
  1. Kaum Syi’ah, kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina Ali Karamallahu wajhahu. Mereka tidak mengakui Khalifah-khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, Radhiyallahu’anhum. Kaum Syi’ah kemudian berpecah menjadi 22 aliran.
  2. Kaum Khawarij yaitu kaum yang berlebih-lebihan membenci Saidina 'Ali Kw. bahkan ada di antaranya yang mengkafirkan Saidina Ali. Firqah ini berfatwa bahwa orang-orang yang membuat dosa besar menjadi kafir. Kaum Khawarij kemudian berpecah menjadi 20 aliran.
  3. Kaum Mu’tazilah, yaitu kaum yang berpaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, bahwa manusia membuat pekerjaannya sendiri, bahwa Tuhan tidak bisa dilihar dengan mata dalam syurga, bahwa orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di antara dua tempat, dan mi’raj Nabi & Muhammad hanya dengan ruh saja, dan lain-lain. Kaum Mu’tazilah berpecah menjadi 20 aliran.
  4. Kaum Murji’ah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa membuat ma’siyat (kedurhakaan) tidak memberi mudharat kalau sudah beriman, sebagai keadaannya membuat kebajikan tidak memberi manfa’at kalau kafir.
  5. Kaum Najariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yakni dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada. Kaum Najariyah pecah menjadi 3 aliran.   
  6. Kaum Jabariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa, manusia “majbur”, artinya tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaba tidak sama sekali. Kaum ini hanya 1 aliran.
  7. Kaum Musyabbihah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan manusia, umpamanya bertangan, berkaki, duduk 1 di kursi, naik tangga, turun tangga dan lain-lainnya.  Kaum ini hanya 1 aliran saja.
Dari 7 kelompok tersebut, jumlah totalnya adalah sebagai berikut:
  1. Kaum Syi'ah         22 aliran.
  2. Kaum Khawarij         20 aliran.
  3. Kaum Mu’tazailah         20 aliran.
  4. Kaum Murjiah        5 aliran.
  5. Kaum Najariah        3 aliran.
  6. Kaum Jabariah        1 aliran.
  7. Kaum Musyabihah         1 aliran.
Jumlah:              72 aliran.

Jika 72 ini ditambah dengan 1 aliran lagi yaitu paham kaum Ahlusunnah Wal Jamaah / Sunni maka total menjadi 73 firqah, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Demikianlah daftar golongan akidah menurut Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar al-Masyhur. Beliau wafat pada tahun 1320 H, atau 1902 M. Jika kita membuat studi serupa dengan kasus di zaman ini, masih ada kemungkin akan ada perbedaan di sana-sini karena sejak 1320H/1902M banyak muncul golongan-golongan baru yang menyimpang.

Rujukan



Buku I'tiqad Ahlusunnah Wal Jamaah karangan K.H. Siradjuddin Abbas

Rasulullah pernah menyatakan bahwa setelah kepergian beliau umat Islam akan berpecah kepada banyak golongan, dan hanya 1 golongan saja yang benar. Perpecahan yang dimaksud ini adalah perpecahan di bidang aqidha/i'tiqad/ keyakinan, bukan sekedar fiqih/syariat. Perbedaan dalam syariat dibenarkan asalkan ada dalilnya, misalnya saat ini ada 4 mazhab besar fiqih dalam Islam (Maliki, Syafi'i, Hanafi, Hambali), yang ke-4 nya berbeda namun semuanya dibenarkan untuk diamalkan.

Salah-satu rujukan yang membahas keyakinan Islam Sunni serta perbedaannya dengan keyakinan lain adalah buku karangan K.H. Siradjuddin Abbas berjudul 'I'tiqad Ahlusunnah Wal Jamaah'.

Berikut ini cover depan, cover belakang dan daftar isi dari buku tersebut.

Sampul depan buku I'tiqad Ahlusunnah Wal Jamaah

Sampul belakang buku I'tiqad Ahlusunnah Wal Jamaah

Berikut ini adalah daftar isi buku 'I'tiqad Ahlussunah Wal Jamaah" karangan K.H. Siradjuddin Abbas.
  1. Keterangan umum     | 
  2. I’tiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah 
  3. Daftar ringkas i’itiqad kaum Ah-lussunnah wal Jama’ah
  4. Sejarah ringkas paham Syi'ah       
  5. I’itiqad kaum Syi’ah yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah     
  6. Sejarah ringkas Paham Khawarij       
  7. I’itiqad kaum Khawarij yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah
  8. Sejarah ringkas Paham Murjiah
  9. I'itiqad kaum Murjiah yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah
  10. Seiarah ringkas paham Mu’tazilah
  11. I’itiqad kaum Mu’tazilah yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah
  12. Sejarah ringkas paham Qadariyah
  13. I’itiqad kaum Qadariyah yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah
  14. Sejarah ringkas paham Jabariyah      
  15. I’itiqad kaum Jabariyah yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah
  16. Sejarah ringkas paham Najariyah
  17. I’itiqad kaum Najariyah yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah
  18. Sejarah ringkas faham Musyabbihah
  19. I’itiqad kaum Musyabbinh yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah
  20. Sejarah Ringkas Paham lbnu Taimiyah
  21. Fatwa-fatwa Ibnu  Taimiyah yang bertentangan dengan fatwa-fatwa kaum Ahlussunnah wal jama’ah
  22. Sejarah ringkas paham Wahabi
  23. I’itiqad kaum Wahabi yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah waljama’ah
  24. Sejarah ringkas aham Bahaiyah
  25. I'tiqad kaum Bahaiyah yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah waljama'ah
  26. Sejarah ringkas paham Ahmadiyah
  27. I’itiqad kaum Ahmadiyah yang bertentangan dengan i’itiqad kaum Ahlussunnah waljama’ah
  28. Jadwal kesimpulan perbedaan i’itiqad yang sangat prinsipil antara kaum Ahlussunnah wal Jama'ah dengan firqah-firqah lain
  29. Kitab-kitab penting dalam lingkungan kaum Ahlusunnah wal Jama'ah
  30. Penutup
Dari sampul belakang:

Buku ini sengaja ditulis dengan tujuan membukakan pintu hati bagi para pembaca umat Islam untuk mengetahui dan lebih memahami lagi aqidah Ahlussunah wal Jamaah. Suatu aliran atau faham yang paling banyak dianut oleh umat Islam Indonesia.
Pembahasan dalam buku ini tidak terbatas hanya sekitar faham Ahlussunah Wal Jamaah saja, tapi juga dibahas aliran-aliran / firqah - firqah lain seperti faham : Syi’ah, Khawarij, Murjiah, Mu'tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Najariyah, Musyabbihah, fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah , Wahabiyah, Bahaiyah dan Ahmadiyah dibahas seluas-luasnya dengan satu tujuan menghilangkan kesimpangsiuran faham yang beredar di umat Islam selama ini.

Dengan membaca buku ini masyarakat/umat Islam akan tahu perbedaan dan pertentangan antara firqah-firqah tersebut diatas dengan aqidah Ahlussunah Wal Jamaah.
Dengan demikian diharapkan setelah memahami isi buku ini kia bisa mengorekst cMri dan menemukan faham yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

Buku ini banyak tersedia di toko buku Islam, terutama yang fokus ke Sunni/Ahlusunnah Wal Jamaah. Saya sendiri mendapatkan buku ini di toko buku online Al Barokah.

Saturday, January 24, 2015

Istilah Makanan Mengandung Babi

Berikut ini beberapa istilah bahasa Inggris untuk babi yang terdapat dalam makanan:
  • Pig: hewan babi, khususnya babi muda dengan berat kurang dari 50 kg 
  • Pork: daging babi
  • Swine: istilah untuk seluruh spesies babi
  • Hog: babi dewasa dengan berat melebihi 50 kg
  • Boar: babi liar, babi hutan, atau celeng
  • Lard: lemak babi, biasa digunakan sebagai minyak untuk masakan atau kue serta bahan sabun
  • Bacon: daging hewan yang diasapi, terutama babi
  • Ham: daging paha babi yang telah diawetkan
  • Sow: babi betina dewasa (jarang digunakan)
  • Sow milk: susu babi
  • Porcine: sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi
Berikut ini beberapa istilah Asia untuk babi dalam makanan:
  • Bak: Daging babi dalam Bahasa Tiongkok. Misalnya bak kut teh dan bakkwa. Hati-hati, bakso dan bakpaopun bisa menggunakan daging babi.
  • Char siu, chashu, cha siu, char siew: Hidangan Kanton berupa daging babi barbecue.
  • Cu nyuk: Daging babi dalam Bahasa Khek/Hakka. Istilah ini digunakan dalam siomay dan bubur.
  • Cu Rou: Daging babi dalam Bahasa Mandarin. Sedangkan rou sendiri artinya 'daging'. Misalnya hongshao rou, rou jia mo, tuotuorou, yuxiangrousi.
  • Dwaeji: Daging babi dalam Bahasa Korea. Biasanya istilah ini digunakan sebagai varian bulgogi dan galbi.
  • Tonkatsu: Hidangan Jepang berupa ​irisan ​daging babi ​yang di​goreng ​dengan lapisan tepung panir​.
  • Tonkotsu: Hidangan Jepang berupa ramen berkuah putih keruh, terbuat dari tulang, lemak, dan kolagen babi yang direbus berjam-jam.
  • Butaniku: Sebutan untuk daging babi dalam bahasa Jepang​.
  • Yakibuta: Hidangan Jepang mirip char siu, biasanya untuk topping ramen.
  • Nibuta: Hidangan babi berupa pundak babi yang dimasak perlahan dengan sedikit kuah.
  • B2: Sebutan untuk makanan berbahan daging babi di daerah Batak dan Yogyakarta.
  • Khinzir: Babi dalam Bahasa Arab dan Melayu 
Semoga kita semakin berhati-hati dalam membeli makanan supaya terhindar dari mengkonsumsi makanan yang mengandung babi.
Sumber